Senin, 26 November 2012

Hana Tajima Simpson : Muda, Modis, dan Energik


Siapa yang tak kenal Hana Tajima atau dengan lengkapnya Hana Tajima Simpson, cewek cantik blasteran Jepang dan Inggris ini sudah lama bergelut dengan dunia mode. Hana menekuni busana muslimah yang trendy namun tetap membawa unsur Islami. Label yang hana buat adalah label Maysaa.

Busana rancangannya kerap diulas diberbagai majalah International. Hana mengusung ciri rancangannya adalah simple, masa kini, dan tak terlepas dengan kaidah-kaidah islam.  Ia menjauhkan rancangannya dari kesan busana muslim yang kedodoran, warna yang norak, dan tidak rapi.


Berawal dari pengalamannya yang banyak, Hana mencoba mepadupadankan penampilannya. Hingga ia sadar harus melakukan perubahan dan berbuat sesuatu untuk model muslimah yang terkesan kuno. Maka dari itu ia merintis sendiri melalui blog fashionnya. Hingga akhirnya ia memiliki label busana yang ia namakan Maysaa.





Mengulik kembali tentang latar belakang seorang Hana Tajima, ia terlahir dari blasteran Jepang dan Inggris. Tajima Ayahnya berasal dari Jepang dan Ibunya yang berasal dari Inggris. Mereka yang menetap di London Inggris.

Hana sempat di landa kebingungan dalam kehidupannya.  Hana melihat teman-temannya yaitu mahasiswa yang muslim terlihat berbeda. Bagi Hana, teman-teman mereka menjaga jarak dengan beberapa mahasiswa tertentu. Mereke menolak ketika diajak pergi berpesta malam di sebuah klub. Penolakan teman-temannya ini pun justru hal yang menarik bagi Hana, karena teman-temanya lebih senang berdiskusi dan  membaca di perpustakan.

Dari rasa kagumnya kepada teman-temannya yang muslim, ia  berniat untuk belajar lebih dalam lagi mengenai Islam. Pelajaran ia dapatkan langsung dari sumbernya yaitu Al-Quran. Melalui Al-Quran lah ia akhirnya memutuskan untuk masuk dalam agama Islam. Dan dari Al-Quran pula Hana memahami betul dalam berbusana yang baik dan sopan. Disaat usianya yang belia, ia merubah penampilannya dengan mengenakan busana muslim.

Hingga suatu ketika Hana membuat blog StyleCovered yang isinya panduan berjilbab. Tak diduga blog yang ia buat lari manis dan tak hanya menjadi rujukan muslima di Inggris, namun bisa mencapai ke berbagai  negara. Dan sampai saat ini pula Hana menjadi trendsetters di berbagai kalangan muda muslimah di berbagai negara.

Minggu, 25 November 2012

Trave(love)ing : Trip to Cirebon-Jakarta-Bogor (Part three)

....
Good morniiing Jakarta !!
Barusan kemaren bangun tidur dan melek ngelihat kota Cirebon. Dan sekarang bangun-bangun sudah melihat cerahnya pagi di ibukota. Pagi ini kami nggak pake sarapan di Mes tempat kami menginap, tapi kami langsung jalan menuju stasiun. Yes, our next destination today are Bogor city. Here we go ! 

Perjalanan ini kami mulai dengan jalan kaki ke depan jalan Surabaya. Di depan jalan Surabaya, kami menunggu bajaj. Sambil menunggu bajaj lewat, sempatin nih foto-foto hehehe narsis dikit boleh laah..


Ini nih kondisi Jakarta di pagi hari tepatnya di jalan Surabaya.

Tak lama dari kejauhan suara bajaj yang khas mulai terdengar. Tanpa banyak kompromi kami segera naik bajaj menuju stasiun. Knapa ke stasiun?, yapz karena kali ini perjalanan kami ke Bogor naik KRL, itu lho kereta api listrik. Karena baru ini Ayahku naik KRL lagi (jaman dulu udah pernah tahun 90-an) dan sekarang sudah agak lupa bagaimana alurnya. Gara-gara lupa, alhasil kami sempat salah stasiun. Kami datang ke stasiun Gambir, seharusnya naik dari stasiun Juanda atau stasiun Cikini. Akibat salah stasiun ini akhirnya kami harus cari bajaj lagi (yah jadi muter-muter deh, nggak apa-apa lah skalian jalan-jalan hehehe). Sesampainya di stasiun Juanda kami beli tiket KRL jurusan Bogor. Tapi KRL ini lewat Depok dulu baru nanti ganti kereta jurusan Bogor. Sebenarnya ada KRL yang langsung menuju Bogor tapi keretanya datang jam 8.00 otomatis terlalu lama kami menunggu, sedangkan kami sudah di stasiun Juanda jam 6.30 pagi (terlalu lamaaaa !!). 

Yeayy !! this is a real journey  ...
Kali pertama naik KRL rasanya excited banget. Ini antara norak sama excited beda-beda tipis. Maklum namanya juga baru ini naik KRL, biasanya kalau ke Bogor naik mobil. Dan ini aku bener-bener merasakan yang namanya the journey. Naik kendaraan umum itu ternyata nyenengin juga kok, di sini kami bisa melihat kehidupan orang-orang Jakarta. Melihat juga gaya mereka ketika di kereta. Apalagi KRL yang kami tumpangi adalah KRL AC otomatis penumpangnya kebanyakan rapi dan nggak sembarangan. Mereka yang tergolong masih muda lebih asyik mendengarkan musik dengan memasang earphone dan disambungkan ke iPod atau Handphone.  Sementara ada yang serius sendiri dengan buku bacaan yang mereka bawa. Kalau aku sendiri menjadi pendengar setia Ayahku yang sedang bernostalgila eh nostalgia masa mudanya dulu yang hidup di Ibukota. Setiap daerah yang kami lewati, Ayahku tak pernah lepas dari ceritanya. Mulai dari dulu sekolah SDnya, SMP, sampai kuliah yang sempat terhenti ketika semester tiga karena krisis keluarga. Jadi aku tidak merasa bosan dengan perjalanan yang kebetulan aku nggak bawa earphone untuk mendengarkan musik. 

Jakarta- Bogor lumayan memakan waktu selama dua setengah jam. Emm sebenernya normalnya sih cuma dua jam kalau naik mobil dan nggak macet. Tapi ini naik KRL dan harus mampir Depok dulu, waktunya jadi agak molor.  Sampainya kami di Bogor, belum apa-apa kami mengabadikan moment di stasiun. Apalagi gedung stasiunnya bener-bener jadul (jaman dulu) dan masih berbau kolonial. Jadi kami melakukan foto-foto di depan stasiun.
 (gambar)


Jalan-jalan sama Ayahku itu memang ada manfaatnya, karena Ayahku bisa menjadi seorang guide dadakan terutama saat di Bogor ini. Ayahku sedikit banyaknya tahu tentang kota yang terkenal dengan kota hujan ini. Gimana nggak  tahu tentang Bogor, soalnya Ayahku pernah tinggal di sini selama dua tahun lebih yaitu masuk kelas tiga sampai kelas empat sekolah dasar. Kalau di minta cerita, Ayahku paling seneng tuh. Aplagi Ayahku memang doyan ngomong, kalau ngomong bisa jadi satu buku tuh hehehe...

Turun dari stasiun Ayahku sudah mulai cerita tentang taman yang berada di depan persis stasiun Bogor.  Kata beliau di depan stasiun terdapat taman yang namanya taman topi. Cukup disayangkan sekarang taman itu tidak seasri dulu jamannya Ayahku masih kecil, karena taman tersebut sudah dihuni beberapa pedagang kaki lima yang akhirnya mendirikan lapaknya menjadi toko-toko kecil permanen. Alhasil juga taman ini menjadi sedikit kumuh. Eitss sebelum kami melanjutkan melancong kota Bogor, perut harus diisi nih. Dipinggir jalan kami melihat seorang laki-laki berjualan ketan sambel (kalau kata orang Surabaya). Mumpung masih anget, beli dulu yuk !
(Gambar)

Baru beberapa meter beli ketan sambel, di ujung jalan ada yang jual lontong sayur, widiiih kayaknya enak nih mampir bentar yah..  Sayang banget nih nggak sempet foto, soalnya keenakan makan sayur lontongnya.

Sehabis makan, kami melanjutkan lagi keliling kota Bogor. Dari stasiun dan taman topi, kami menyusuri lagi setiap jalanan kota Bogor. Di hari Sabtu ini ternyata banyak orang-orang berjualan di pinggir jalan. Mulai dari makanan sampai  baju bahkan spearpart motor juga ada. Dan kami berjalan menuju ke sekolahnya Ayahku. Berhubung tempatnya nggak jauh, Ayahku sangat bersemangat menunjukkan aku sekolah yang banyak kenangan tersendiri bagi Ayahku. Ketika sampai di depan sekolah dasar yang bernama SDN Pengadilan I Ayah ku jadi lebih banyak cerita lagi. Ayahku cerita akan gedung sekolah yang sangat klasik dan berbau-bau kolonial. Namun Ayah ku menyayangkan kalau keadaan sekolahnya agak kumuh karena terlalu banyak orang-orang yang berjualan. Belum lagi pedagang kaki lima yang makin banyak membuka lapak di pinggir jalan.
(Gambar)
nggak lupa nih mengabadikan

Nostalgia sudah dilakukan Ayahku, kami pun melanjutkan perjalanan kami ke jalan utama. Oya nggak lupa nih kami melewati sekolah Tanteku waktu taman kanak-kanak. Nama sekolahnya adalah Regina Pacis, jaraknya nggak terlalu jauh dari sekolah dasarnya Ayahku.  Setelah itu kami lewati yang namanya Istana Bogor yang terkenal dengan peliharaan hewan Kijangnya. Yup lagi-lagi kami nggak lupa buat foto-foto hehhe
(Gambar)

Setelah puas foto-foto, ternyata kami dijemput Tante aku alias adik kandungnya Ayahku yang kebetulan tinggalnya di daerah Sentul dekat dari Bogor. Bertemu di dekat Istana Bogor, kami jadi dijemput. Karena jarang bertemu, akhirnya kami jadi kangen-kangenan dan kami juga di ajak jalan-jalan ke Puncak Cisarua Bogor. Awalnya Ayahku menolak, karena takut akan macet. Maklum Bogor kalau waktu weekend begini biasanya terkenal macet. Dan yang membuat macet adalah adanya jalan yang dibuka tutup gitu, jadi gantian jalannya. Mungkin dibuat seperti itu karena volume kendaraan yang meningkat ya. Menikmati macet dijalan, sambil kami bercerita ini itu dan becanda bareng anak-anaknya Tanteku cewek-cewek yang lucu-lucu yaitu si Tasya, Abel, dan yang paling kecil Nabila. Mereka nggak cuma lucu, tapi cerdas-cerdas. Namanya anak kecil, pastinya mereka nggak lepas dengan rewel dan minta ini itu, hadeeeh jadi pusing juga, tapi cukup seneng kok ...
Perjalanan kami terhenti di salah satu hotel yang terkenal banget dan sering dipakai untuk syuting FTV, namanya Hotel Seruni. Pertama kali masuk, agak penasaran soalnya jalannya masuk-masuk jalan sempit. Tapiii setelah masuk sumpah kueeereeenn bangeeet... Apalagi ngeliat air mancurnya dan aku jadi teringat akan yang ada di tipi-tipi (TV maksudnya). Tempat yang bagus, nggak luput lagi dong buat foto-foto hehehe..
(Gambar)

Puas jalan-jalan saatnya kami naik ke lebih puncak lagi. Di sana kami mampir ke salah satu temoat makan namanya Depot Bumi Aki, eh 'Aki' bukan Aki mobil lho, tapi ini bahasa sundanya kakek. Cabang lainnya ada Depot Bumi Nini. Tempatnya biasa tapii hawanya dingiiin banget, minum teh yang tadinya panas tiba-tiba cepet dingin. Pokoknya enak banget deh, apalagi kalo dibuat tidur hehehe..
Setelah beberapa jam kami menikmati hawa dingin di Depot Bumi Aki, kami pun segera kembali turun. Sebenarnya jarak puncak Bogor bisa ditempuh dengan waktu setengah jam, tapi lagi- lagi ada buka tutup jalan otomatis macet itu ada hingga kami menunggu hampir dua jam untuk ngantri. hemm untung hawanya dingin jadi nggak bosen hehehe..
Dua jam lebih kami tempuh, akhirnya kami sampai di kota Bogor. Karena Bogor adalah kota hujan, nggak heran kalau udh menjelang sore hujan pun mulai mengguyur kota Bogor. Kebetulan di kota Bogor juga, kami  nggak lupa menyempatkan untuk mampir ke makam Opa alias Bapaknya Ayahku yang asli Bogor. Meskipun hujan agak deras, aku dan Ayahku tak patah semangat untuk mendoakan Opa dan Niniku yang kebetulan satu tempat.

Hujan di kota Bogor masih mengguyur, kami tetap semangat jalan-jalan. Dan kami mampir ke Factory Outlet.
Meskipun hujan-hujan kami sempat juga lho milih-milih baju. Nggak banyak yang dibeli tapi cukup seneng kok hehehhe..
Magrib pun sudah berkumandang, kami harus segera balik ke Jakarta karena saudara-saudara di rumah Oma di Priuk (Tanjung Priuk, Jakarta Utara) sudah menunggu. Yah rumah Priuk ini adalah rumahnya Ayahku. Di sini pula adik-adik kandungnya Ayahku banyak yang tinggal. Dari 9 adik-adiknya Ayahku nggak semua kumpul, karena ada yang tinggal di luar Jakarta dan Luar Negeri. Meskipun begitu keadaan rumah Oma cukup ramai karena keponakan Ayahku ikut meramaikan. Puas kami kangen-kangenan dan bercanda dengan saudaranya Ayahku, akhirnya Aku dan Ayah ku pamit balik ke Mes tempat aku dan Ayah ku menginap. Sesampainya kami di Mes, kami mulai mempersiapkan lagi barang-barang yang akan kami bawa kembali ke Surabaya.

Minggu pagi yang cerah, kami segera sarapan pagi dan bersiap-siap untuk meninggalkan Mes serta menuju ke stasiun Gambir.
Yah itulah perjalanan kami selama empat hari mulai dari Cirebon-Jakarta-Bogor. Cukup berkesan dan menyenangkan. Besok Senin sudah saatnya memulai aktivitas kembali. Semangaaat !!

(gambar) 

Kamis, 22 November 2012

Trave(love)ing : Trip to Cirebon-Jakarta-Bogor (part two)

.....
Alhamdulillah kenyang, Nasi Jamblang sudah masuk perut. Tiba-tiba handphone-nya Ayah ku berdering, ups ternyata ada telpon dari pihak hotel tempat kami menginap. Pihak hotel menanyakan apakah kami akan check out hari ini atau masih stay. Kabar melalui telepon ini menandakan kalau waktu menginap kami sudah habis atau akan diperpanjang lagi.  Rencana kami yang akan melanjutkan Jaidurkarta sudah terencana dari kemarin, apalagi kami sudah membeli tiket kereta Cirebon Express. Dengan sedikit tergesa-gesa kami bergegas menuju hotel tempat kami menginap. Untungnya jarak depot tempat kami makan dengan hotel bisa ditempuh dengan jalan kaki, jadi cukup butuh waktu 5 menit menuju hotel. Sesampainya di hotel, tak banyak bicara kami langsung packing lagi. 

Satu hari berada disuatu tempat yang berbeda memang kurang puas, karena masih banyak tempat yang menjadi penasaran untuk dikunjungi. Namun keadaan yang meminta kami harus melanjutkan perjalanan yang sebelumnya sudah direncanakan. 

Waktu sudah menunjukkan pukul 3.00 sore, kami harus segera naik ke kereta, karena limabelas menit lagi kereta akan segera diberangkatkan. Baru kali pertama nih aku naik kereta Cirebon Express yang menuju Jakarta. Biasanya juga dari Surabaya langsung menuju ke Jakarta dengan waktu yang berjam-jam. Yap jam sudah mengarah pukul 3.15, kereta Cirebon Express perlahan-lahan meninggalkan stasiun lama Cirebon. 
And now, Jakarta here we come....

Perjalanan dari Cirebon ke Jakarta cukup ditempuh 3 jam aja dan selama perjalanan aku manfaatkan untuk foto-foto dalam kereta, hehehe sedikit narsis sih, tapi buat aku ini moment lho.







Selama di kereta juga aku nggak bisa tidur, soalnya aku ingin benar-benar menikmati perjalanan ini sambil ngeliat pemandangan yang aku lihat dari jendela. Setibanya di Jakarta Gambir, kami segera menuju Mes yang sudah dipesan Ayah ku sebelumnya.  Katanya ayahku tempat messnya dekat stasiun dan rencana awalnya bakal jalan kaki, tapi kenyataannya kami naik taxi dari stasiun ke Mes.Mess yang kami tempati ini berada di daerah Cikini tempatnya dijalan Pasuruan itu lhoo deketnya jalan Surabaya yang terkenal dengan pasar antik dan koper. Sebenarnya Mes ini namanya adalah Kantor Perwakilan Jawa Timur, jadi tempat ini sebagai tempat tinggal bagi pegawai atau pejabat dari pemerintahan Jawa Timur. Namun tak dilarang juga bagi instansi lain dari Jawa Timur yang bisa menempati tempat tersebut. 

Melepas lelah setelah memasuki kamar yang sudah dipesan sebelumnya. Hanya lima menit merebahkan badan dikasur, aku dan Ayahku harus keluar lagi untuk cari makan. Kebetulan juga nih Ayahku ngajak makan, perut sedaritadi di kereta udh 'krucuk-krucuk'. Karena Ayahku dulu besar di Jakarta, belliau tak asing dengan jalan-jalan di Jakarta. Dan kali ini kami akan kuliner malam di daerah Cikini juga. Jaraknya nggak begitu jauh dan bisa ditempuh dengan jalan kaki. Hanya lima menit kami sudah sampai disebuah jalan agak ramai (aku nggak tahu namanya jalannya hehe). Bubur Cikini itu nama tempat makan kami. Namun disini nggak cuma bubur ajah, tapi ada martabak, mie goreng, dan nasi goreng. Tapi makanan specialnya sih buburnya, soalnya di dalam buburnya itu ada telor setengah matang dan beberapa irisan ayam. Pokoknya so yummy bangeeet dan pas disantap malam-malam begini. 

Perut sudah terisi, saatnya balik ke Mes dan disana ada adik-adik kandungnya Ayahku alias tante-tanteku yang sudah datang lima menit yang lalu. Karena lama nggak ketemu kami semua saling kangen-kangenan dan  foto-foto bareng hehehe..



Rabu, 21 November 2012

Trave(love)ing : trip to Cirebon-Jakarta-Bogor (part one)

This is a long holiday, menyelam sambil minum air, ungkapan ini sangat cocok buat aku dan ayahku. Kami mendapatkan undangan pernikahan saudara di kota Cirebon dan sangat pas disaat liburan panjang. Yups akhirnya berangkatlah kami berdua yang sebelumnya sudah memesan tiket kereta api jurusan Jakarta. Lho kok Jakarta?.

Tepat 8.15 pagi, klakson kereta api yang khas sudah mulai terdengar. Kereta api Agrobromo Anggrek jurusan Jakarta Gambir siap diberangkatkan. Semua penumpang sudah menempati ktrsi yang telah dipesan sesuai yang tercantum ditiketnya. Kebanyakan dari penumpang ini bukanlah sembarang orang, mereka tak sama dengan penumpang yang ada di kereta api kelas ekonomi. Meskipun harga tiket agak sedikit mahal dari kelas ekonomi, tapi cukup terbayar dengan fasilitas yang ada. Kereta yang ber-AC, tempat duduk yang empuk dan agak longgar serta suasana yang menyenangkan dan tidak berjubelan banyak orang cukup membuat perjalanan kami terasa nyaman. Agrobromo Anggrek eksekutif ini membawa perjalanan kami menuju Jakarta, tapi kami nantinya akan turun di kota Cirebon.

Tujuh jam perjalanan Surabaya-Cirebon sudah kami lalui dan tepat pukul 3.15 sore  saat kami turun di stasiun lama kota Cirebon. Sebelum menuju hotel yang sudah kami booking dari Surabaya, kami sempat membeli tiket lagi untuk melanjutkan perjalanan ke Jakarta.  Setelah tiket buat besok sudah ditangan, kami langsung mencari taxi untuk ke hotel. Eh ada yang berbeda nih, di Cirebon sebenarnya nggak ada tuh yang namanya taxi, emm... maksudnya jarang ada taxi seperti biasa yang aku lihat di Surabaya. Taxi di Cirebon bisa dihitung, tapi di sini kebanyakan namanya taxi gelap. Knapa disebut  taxi gelap, soalnya bukan dari perusahaan taxi ternama tapi orang yang memanfaatkan kendaraan pribadinya menjadi angkutan umum dan ini terjadi  saat liburan seperti sekarang ini. Taxi gelap ini nggak selalu ada lho, kita harus cari dulu, soalnya mereka kalau mangkal kadang nggak jelas belum lagi susah buat ngebedain mana ini taxi gelap atau bukan. 

Hari semakin sore dan akan menjelang malam. Saat kami mencari makanan yang pastinya khas dari Cirebon yang ditemani saudaraku. Datang ke Cirebon nggak lengkap kalau belum nyobain yang namanya nasi jamblang dan empal gentong, beuggghh !! mni raos pisan. Jalan-jalan kami telusuri dan kata saudara aku untuk nasi jamblang yang paling enak kalau malam nggak buka, alhasil kami cuma bisa nyoba empal gentong ajah. Okelah kalau begitu empal gentong nggak masalah.  Kami datang di sebuah depot kecil dengan bangunan yang khas Jawa Barat dan ditempat punya menu makanan empal gentong. Nggak banyak komentar, langsung kami memesan makanan tersebut.

Lima menit kemudian, empal gentong sudah diantar dimeja kami. Voila ! empal gentong siap disantap. Agak kaget juga sih ngeliatnya. Pikiran awal empal gentong ini, daging yang diberi bumbu dan digoreng yah menjadi empal goreng gitu. Tapi bayangan aku salah. Empal gentong ini sejenis dengan coto makasar. Tahu kan coto makasar??, kalau nggak tahu coba deh searching di google hehe..
Sayangnya kemaren nggak sempet aku foto soalnya udah laper duluan hehehe. Yah jadi gini, empal gentong itu kuahnya menyerupai gule warnanya kuning dari kunyit dan agak bersantan tapi nggak terlalu kental. Dagingnya nggak digoreng, tapi dipotong kotak-kotak dan direbus. Rasa rempah-rempahnya juga terasa kayak merica dan daun jeruk. Jadi empal gentong itu mungkin seperti istilah ajah. Pokoknya kalau ke Cirebon harus incip tuh yang namanya empal gentong.

Setelah menikmati empal gentong, kami berkunjung ke rumah saudara yang bakal jadi manten besok. Rumahnya agak jauh dari tengah kota yaitu di daerah Palimanan. Mendengar nama Palimanan jadi inget saat mudik lebaran, soalnya daerah Palimanan adalah daerah yang sering menjadi pos pantau mudik lebaran (pernah denger kan yang di TV?). Daerah memang cukup rawan karena banyak kendaraan-kendaraan yang menuju luar kota dengan kecepatan tinggi. Katanya saudara ku di Palimanan kalau mau ke Bandung lewat jalur darat tinggal lurus aja hanya 3 jam sudah sampai.  Sedangkan, ke Jakarta bisa ditempuh 3-4 jam aja. Lumayan juga yah?.

Ngobrol bareng saudara jauh tuh nggak ada habisnya, kalau mau di lama-lamain bisa sampai tengah malam. Jadi, nggak perlu lama-lama juga kami bertemu toh besok juga bakal ketemu lagi. Setelah bke rumah saudaraku, aku dan ayahku harus balik ke hotel yang ada di tengah kota.  Sesampainya, kami tak banyak mengeluarkan tenaga lagi untuk jalan-jalan, soalnya besok pagi harus siap-siap menghadiri acara nikahan.  Lagian kalau malam begini apa yang bisa dilihat atau dikunjungi yah paling-paling Mall. Kalau Mall di Surabaya juga ada, jadi mending balik ke hotel dan istirahat. 

Pagi yang berbeda karena kami menyambut mentari pagi di kota Cirebon. Tak banyak hingar bingar di kota ini. Dan kami bersiap-siap untuk sarapan pagi ala prasmanan yang sudah disediakan hotel. Sepertinya sarapannya kurang spesial paling keren yah nasi goreng, roti bakar, salad, yah begitulah. Aku pikir hotel akan menyediakan makanan yang khas kenyataanya nggak juga. Tapi lumayan lah dengan cara prasmanan bisa nambah hehehe. 

Perut sudah kenyang saatnya balik ke kamar dan bersiap-siap buat menghadiri nikahannya saudaraku. Acaranya nggak terlalu jauh tapi tetep aja harus naik kendaraan umum. Seperti biasanya di acara nikahan mulai bertemu lagi dengan saudara-saudara ayahku lainnya, tapi nggak banyak soalnya ada beberapa yang nggak bisa hadir.

Acara ke nikahan sudah selesai lebih cepat, soalnya aku dan ayah ku mau melanjutkan jalan-jalan ke kota Cirebon yang kemaren sempat tertunda.  Nah jalan-jalan kami menuju ke daerah plered. Daerah ini ternyata pusat wisata pengrajin batik lho. Tempatnya semacam Tanggulangin Sidoarjo. Dengan jalan yang nggak begitu lebar dan banyak berjejeran toko-toko batik. Meskipun cuaca yang agak terik, tapi nggak menyulutkan semangat aku buat menelusuri jalanan dan masuk ke toko-tokonya. Awal masuk toko, sempet bingung dan nggak tahu sebenernya apa sih motif batik yang khas dari Cirebon?. Dan ternyata motif yang khas itu namanya Megamendung (jadi inget es megamendung hihihi). 

Sebagai suatu bentuk karya seni, Megamendung identik dan bahkan menjadi ikon batik pesisiran Cirebon. Bentuk Megamendung ini tergambar seperti awan-awan dengan warna-warna tegas seperti merah dan biru. Motif ini memiliki nilai-nilai filosofi yang terkadung di dalamnya dan sangat erat dengan sejarah  dari kota Cirebon sendiri. 

Ngomong-ngomong soal motif, batik cirebon juga punya motif lain lho selain megamendung yaitu motif dengan dasar polos dan dihiasi bunga serta burung. Motif yang seperti itu diberi warna-warna yang cerah dan berbeda dari kebanyakan batik yang ada. Perpaduan warna kuning dengan ungu, hijau toska dengan orange menambah keunikan batik tersebut. 

Eh ada kejadian lucu nih, saat itu aku mendatangi salah satu toko karena tertarik sama kain batik yang terpampang di etalase toko. Motif batik yang dipajang adalah motif burung dengan dasar kuning terdapat bunga-bunga dan pinggirannya ungu kesannya cerah dan pas banget dengan warna kesukaanku.  Ketika aku melihat batik tersebut, salah satu pegawainya nyamperin aku dan dia menawarkan motif batik yang lainnya.
"silakan teh dilihat batiknya, ada motif lainnya lho teh .." kata pegawainya. 
Motif lain?? rasa penasaranku muncul, tanpa segan aku tanya dan ingin segera lihat motif lain yang dimaksud pegawainnya. 
"seperti apa ya mbak?" tanyaku. Tiba-tiba pegawainya mengambil salah satu kain batik lainnya, "ini teh ada burung dan cecak-cecaknya..".  Cecak-cecak?? pasti ada dua binatang yang menjadi motifnya *pikirku dalam hati.  Setelah di hentangkan kainnya, aku nggak melihat yang namanya binatang cecak. Ups! ternyata dugaanku salah. Dan "cecak-cecak" itu apa?? yeah cecak-cecak adalah bintik-bintik alias titik-titik. Gubrakk !!. Aku lupa ini kalau di Cirebon ini bahasa yang digunakan bahasa Jawa tapi jawa ngapak. Dan mereka menyebut titik-titik itu cecak-cecak, yah bukan cecak-cecak di dinding (itu cicak ya). Tadinya mau ketawa ngakak, tapi nggak enak juga sama pegawainya jadi aku tahan setahan-tahannya.  

Bahasanya Cirebon itu sebenarnya nggak jauh beda sama bahasa jawa pada umumnya, tapi ada kata yang sama cuma beda artinya. Contohnya nih ya, kata 'saiki' kalau bahasa jawa artinya 'sekarang', nah ini beda arti kalau di Cirebon. Kata 'saiki' arti dari bahasa Cirebonnya adalah 'ini'. Ada lagi kata 'pirang' (bukan jenis rambut lho yah?), kalau bahasa jawa bisa dikatakan 'berapa'. Sedangkan, bahasa Cirebonnya 'banyak', seperti kalimat "...sak pirang-pirang baeklaa.." yang artinya sebanyak-banyaknya. 
Ini baru per-kata, mendengar orang Cirebon yang ngomong malah jadi bingung mengartikannya. Belum lagi dengan logat mereka yang nggak jauh beda sama orang Tegal, Indramayu, dan sekitarnya. 

Berjalannya waktu, ternyata sudah pukul 12.00 siang. Perut sudah mulai keroncongan. saat nih makan siang. Dan kali ini aku dan ayah ku mencari makanan khas Cirebon yaitu nasi jamblang. Tempat atau warung yang menjual nasi jamblang nggak jauh dari hotel kami menginap. Kalau mau tahu bagaimana nasi jamblang ntar aku share fotonya.


Ini nih yang namanya Nasi Jamblang ..