Minggu, 09 Februari 2020

Terimakasih ya Allah atas Cobaan yang Engkau Berikan

Terimakasih ya Allah atas segala nikmat yang engkau berikan.

Kenapa permulaan dari tulisan ini adalah rasa syukur saya. Ya karna setiap sesuatu hal yang baik yang kita terima adalah anugrah yang tak terduga. Contoh kecilnya, bangun tidur dengan keadaan badan segar. Masya Allah kan. Seandainya kalau kita bangun, ternyata badan kita kurang enak badan, naudzubillah mindalik.

Saya sangat bersyukur dengan segala apa yang diberikan sama Allah, tag terkecuali dengan cobaan yang diberi Allah swt. Jujur saya tadinya nggak sadar, bahkan saya merasa mangkel dengan apa yang saya lihat kurang sesuai dengan diri saya. Melihat sesuatu yang merasa membuat mood saya beda.
Sedikit cerita.. emm sebenarnya hal ini nggak besar, tapi saya nggak mau berujung yang menyesal, untuk menghindari itu secara penuh, saya bicarakan hal tersebut dengan yang bersangkutan. Jujur sebelum berkomunikasi dengan benar, saya merasa dibisikkan setan, hingga emosi saya muncul. Namun setelah itu saya menyesal, nah saya nggak mau itu terulang lagi. Saya nggak mau image saya berlarut menjadi buruk. Sebelum terlalu memburuk, saya menahan kembali rasa emosi itu dan mencoba untuk merenung juga memahami apa yang harus saya lakukan tanpa menyakiti orang lain. Akhirnya saya butuh berkomunikasi kembali dengan orang yang dekat dengan orang yang berkaitan itu tadi. *sebelum lanjut cerita, saya mohon maaf untuk tidak menyebutkan namanya, anggap saja yang membuat saya emosi adalah A dan orang yang dekat dengan si A, anggap saja namanya si B.

Lanjut ya..
Saya mencoba tenang dan sharing kembali kejadian itu. Si B hanya menjadi orang netral saja, karena si B juga tidak mau menyakiti A sebagai orang yang sudah dipilih untuk partner hidupnya. Komunikasi ini intinya untuk semuanya tidak ada salah paham. Harusnya saya dibicarakan sama si A juga, which is kita kumpul bertiga. Tapi jujur saya merasa insecure sendiri kalau si A tersinggung dan marah. Dan berkali - kali si B bilang sabar.. sabar.. dan sabar.. oke saya memahami dulu dengan smua itu. Lagi-lagi saya harus melakukan cara yang nggak semuanya pakai emosi. Salah satunya saya berdoa. Kata tante saya, baiknya kita berdoa aja, biar Allah yang membantu menyelesaikan. Yakin sama Allah semua akan terselesaikan tanpa harus melakukan sesuatu yang bikin fatal. Akhirnya setiap sholat saya selalu berdoa semuanya makin membaik dan si A dibukakan pintu hatinya untuk menjadi lebih baik. Alhamdulillah hari ini (sembilan Februari 2020) ada sedikit ditemukan solusinya sesuai kesepakatan bersama, tinggal mewujudkan solusi itu, jadi nggak hoax. Saya pun tetap terus meminta, berdoa lagi untuk mewujudkan solusi itu.

Ketika selesai sholat Isya', tiba -tiba saya menyadari kembali. Menurut saya ini adalah cobaan buat saya. Dan hasil doa saya kemarin sedikit menemukan titik terang, tanpa harus adu otot atau emosi. Berarti saya bisa mengurangi dosa saya, berarti saya sedikit demi sedikit melewati tangga untuk "naik kelas", nah... saya pun akhirnya sadar bahwa saya harusnya bersyukur lagi dengan cobaaan ini setidaknya saya perlu melewatinya dengan melibatkan Allah dimana saya berdoa kepada beliau dan bersabar untuk bisa mendapatkan pahala juga bisa naik kelas itu tadi. *naik kelas ini maksudnya derajat kita dimana Insya Allah mendapat pahala dari Allah swt. Seandainya saya melanjutkan case ini dengan adu otot lagi seperti sebelumnya, nggak tau deh apa yang terjadi selanjutnya.

Sungguh saya tidak terfikirkan sebelumnya, bahwa rasa syukur itu nggak cuma setelah diberi rejeki, tapi kalau kita pahami dan merenungkan kembali, cobaan bisa menjadi ladang rejeki atau pahala buat kita. Bukan saya sok ya atau menggurui, tapi emang saya rasakan itu. Kalau pun besok emosi saya mulai nggak stabil, balik lagi saya hanya manusia biasa dan hanya berkata "astagfirullah" untuk meredam segala emosi yang ada. Jujur tiap sholat juga saya membacakan Al fatihah untuk si A, agar segalanya menjadi baik. Percaya nggak percaya setidaknya itu doa dan lagi-lagi saya secara tidak langsung juga melibatkan Allah untuk masalah yang saya hadapi ini.

Semoga doa saya selanjutnya bisa terkabulkan, saya yakin Allah swt pasti membantu.




Selasa, 31 Desember 2019

Selalu Terkenang

Dua tahun berlalu daddy meninggalkan semuanya. Aku, mas Edwin, dan semua saudara serta sahabat2 beliau. Dua tahun itu nggak lama dan aku nggak akan menghitung sudah berapa lama daddy pergi. Cukup tiap tahun aku akan mengenang kepergiannya dipenghujung akhir tahun, karena daddy pergi bukan menghitung berapa tahunnya, tapi daddy dan mami pergi untuk selamanya. 


Minggu, 28 Juli 2019

Mimpi Satu Milyar


Tidak terbayangkan jika kita dapat rejeki berlimpah dan pastinya cara mendapatkannya itu halal yang tidak disangka-sangka. Sesuatu yang benar-benar sangat disyukuri
Seperti kemarin, ketika perjalanan pulang kerja. Saya berada diantara para pengendara lain, baik motor maupun mobil. Saat ditengah kemacetan, tiba-tiba disebelah kanan saya ada mobil Alpard warna hitam yang melintas secara perlahan, karena arus macet yang masih berlangsung. Saya melihat mobil itu sungguh membuat saya agak tercengang, yaaa maklum saya belum pernah naik mobil begituan. Lalu saya teringat ucapan dari tante saya yang saat itu saya dan tante lagi di showroom mobil. Beliau bilang, "bagus ya, iya sih satu em-an" dengan logat jawanya. yaya percaya sih kalau mobil itu mahal, dan kayaknya harus jadi orang kaya ya punya mobil begitu. Kalau naik sih bisa aja sewa hahaha, tapi buat apa.
Lanjut dalam khayalan saya, kalau orang punya mobil Alpard, pasti duitnya udah bakal lebih dari satu em. Gimana nggak, kan biaya punya mobil begitu nggak murah. Bensinya aja nggak mungkin pilih yang pertalite bahkan bisa jadi bahan bakarnya sekelas shell. Tapi disini saya nggak akan ngomongin mobilnya sih. Yang saya omongin adalah nilainya yang satu em. Seandainya saya punya duit satu em, mungkin saya nggak langsung beli mobil begitu, karena saya nggak bisa nyetir hahaha, tapi yang saya lakukan terhadap uang satu em adalah pergi umroh (kalau posisi belum nikah) atau pergi haji (kalau udah ada suami). Kalau udah pergi ke tanah suci dan duitnya masih sisa, sepertinya saya akan beli mobil yang harganya di bawah 300jtan, dan kalau masih ada sisa lagi, duitnya  ditabung atau dibuat usaha atau bisnis. hemmm....terakhir nggak lupa sedekah.
Masya Allah... ngimpi banget sih yaa..
Kembali lagi, Allah yang punya semua kuasanya. Kita nggak akan pernah tahu apa rencana Allah buat saya. Dan yakini, rejeki setiap manusia pasti udah diatur sesuai porsi dan kemampuan manusia itu sendiri. Jangankan urusan rejeki ya, ditinggal sama orang-orang yang kita sayang aja, kita nggak akan tau dan pastinya saya nggak minta. Tapi setidaknya bermimpi mendapatkan rejeki duit satu milyar nggak ada salahnya kan ?

Rabu, 01 Mei 2019

New Chapter Begin of Life


Rasanya kayak mimpi, tapi ini nyata. Kenyataannya aku harus menjalani apa yang ada sekarang. Kehidupan masih berjalan. Masih ada yang perlu dilewati. dan ketika aku membuka mata, semuanya berbeda. Aku bukan lagi dirumah ku sendiri. Suara teriakan Ibu yang membangunkan aku dan menyuruhku membantunya menyiapkan sarapan itu sudah tidak ada lagi. Begitu dengan suara mesin mobil milik Ayah, yang tiap pagi sudah membuat berisik, juga tidak ada. Kemana semua itu
Astagaaa… aku lupa. Ayah dan Ibu sudah nggak disini. Mereka udah pergi untuk selamanya. Tersadar aku ketika tante Ira memanggilku dari balik pintu kamar untuk menyuruhku sarapan.
"Rasya…bangun sayang, ayo sarapan, tante udah bikin nasi goreng pedes kesukaan kamu.." Ujar tante.
Aku masih belum bisa menjawab, karena belum sepenuhnya tersadar. Mata ini udah melek, tapi masih nggak mampu untuk menahan rasa kantuk yang masih ada.
ketukan tante yang kesekian, sunggu menyadarkan aku untuk segera menjawab.
"iya tante… Aku udah bangun kok,, ntar aku susul ke meja makan" jawab ku dengan suara yang agak serak dan berat, maklum baru bangun.
"ya udah, buruan ya, soalnya keburu dingin nanti nasi gorengnya"
"iya tante… "

Tak lama tante sudah menjauh dari daun pintu kamar ku dan dia melakukan hal lain, entah aku nggak tahu. Yang aku dengar sedikit, langkahnya udah mulai menjauh dari kamar ku.

"Astagfirullah…ini nyata" aku bicara sendiri dan mengusap wajah ku , agar aku lebih sadar lagi.
Aku segera mengangkat badan ku sendiri dan turun dari Kasur. yang aku lakukan pertama melihat dicermin lemari. Sungguh berantakan rambut ku. Wajah ku Nampak kusam dan sedikit sedih. Lama-lama agaknya aku melamun seketika.
"Ayah ibu,,,", lalu aku tersadar dari lamun ku karena suara teriakan tante, "Syaaaa…"
"iyaaa tanteeee…" jawab ku dan bergegas ambil kuncir rambut lalu segera keluar kamar menemui tante Ira yang ternyata udah siap dimeja makan.
"maaf tanteee.. "
"lama benerrrr.. emang semalem tidur jam berapa sih kamu.. kok kayaknya sengantuk itu.."
ujar tante sambal menuangkan nasi gorengnya ke piring yang udah tersedia didepan ku.
Belum sempat aku menjawab, karena aku masih mengingat-ingat, jam berapa aku tidur.
"emm jam berapa ya.. lupa tante nggak liat jam.."
"kamu perempuan jangan suka tidur terlalu malam.. nggak bagus buat kesehatan, lagian kamu bukannya hari ini ada jadwal ngajar ya", sungguh tante mengingatkan aku akan hari ini dimana aku lupa ada jadwal ngajar dihari Sabtu.
"oooooiyaaaa….eh sekarang jam berapa?" aku teringat dan segera melihat jam dinding ruang tengah.
"oh tidaaak jam tujuh…"
"trus kamu ada kelas ngajar jam berapa?" tanya tante.
"jam Sembilan tan.. "
"nah kan, ya udah gih cepet makan trus siap-siap.."
"iya iyah.."

Yah inilah kehidupan ku, aku Melani Rasya, biasa dari kecil dipanggil Sasya atau Rasya, tapi aku lebih suka dipanggil Rasya. Meskipun begitu, dikeluarga cuma nyebutnya "Sya" aja. Aku anak terakhir dari tiga bersaudara. Kakak-kakak aku semua laki-laki. Meskipun punya saudara kandun, tapi terasa seperti nggak punya saudara. Kedua kakak ku jauh dari aku. Jauhnya juga bukan baru -baru ini, tapi udah lama, sejak aku SMP, karena keduanya kuliah di luar kota. Hingga sekarang mereka udah menikah dan tinggal beda kota dengan aku. Kakak aku pertama atau anak pertama, namanya Jaka, sekarang tinggalnya di Palu Bersama istri dan satu anaknya Untuk pulang ke Surabaya mereka jarang, karena butuh biaya lebih. Kakak kedua aku namanya, Wira, dia tinggal di Jogja, karena setelah menempuh kuliah di Semarang, dia dapat lokasi penempatan kerja di Jogja, dan sekarang dia menikah, tapi belum dikasi anak. Aku, aku hanya anak Sastra yang bercita - cita menjadi penulis naskah drama, tapi malah kerja di sanggar balet sebagai pengajar kelas pemula. Kok bisa jadi pengajar, sedikit cerita, awalnya karena dulu di SMA ada temen nawarin les balet dan waktu itu promo. Iseng aja sih ikutan, eh nggak tahunya ketagihan sampai kuliah. Levelnya juga lumayan sih, cuma nggak pernah ikut kompetisi sih hahaha.. selama cari -cari kerja, aku suka main-main ke sanggar itu, soalnya deket sama tempat perpustakaan kota. Sesekali aku ikut nimbrung ngobrol-ngobrol sama staff -nya, salah satunya yang paling akrab itu Mas Ian. Dia bener-bener friendly banget. Dulu ketika awal aku kursus, mas Ian memang belum gabung di sanggar ini. Baru aku kuliah semester akhir, dia sudah menjadi operator. Bahkan dia yang kasi info kalau ada lowongan pengajar untuk basic level alias pemula. ..

to be continued

Kamis, 04 April 2019

Tiap malam, tiap aku tiba di rumah, rasanya ingin cepat2 tidur agar bisa bertemu dengan daddy sama mami. Hanya lewat mimpi kadang aku bisa melihat mereka berdua. Rasanya aku nggak mau bangun dari tidur ku. Kenyataan ini lebih pahit daripada bermimpi.

Sedih dan kesepian selalu menjadi hantu dikala aku pulang kerja. Dad mom... icha kangeeeen banget. Aku nggak tau sampai kapan seperti ini. Melangkah kemana juga rasanya takut. Takut salah, takut terjebak, takut nggak sesuai ekspetasi. Ngelakuin apapun juga nggak semangat. Hampa banget.. hanya pasrah yang bisa aku buat. Entah sampai kapan...

Senin, 04 Maret 2019

Sekuat apapun kamu..
setegar apapun kamu jika kamu ingat dan rindu dengan kedua orang tua mu, akan lemah juga. Apalagi ketika mereka sudah tidak lagi bersama disisimu selamanya.

Sudah 3x aku memimpikan daddy dengan keadaan daddy yang diam tanpa banyak bicara dan beliau menjadi sosok yang sangat penyabar dan bijaksana. Aku kangen daddy yang suka ngomel2 ketika aku belum kunjung pulang kerja. Aku kangen bisa mencium lengannya. Tapi sekarang uda nggak bisa lagi, bahkan selamanya.
ya Allah ini smua kuasa mu.. engkau ambil beliau disaat beliau belum menjadi wali nikah ku.
Hamba nggak tau apa dibalik semua rencanamu ya Allah..
apa ini sungguh peringatan betapa aku harus sadar dan memperbaiki diri ini. Sikap egoisme ku, kekanak2anku, atau juga sikap pemarahku
Aku menyesal ya Allah.
dan aku nggak bisa menemukan kembali sosok daddy lagi.
Miss u daddy
😭😭

Rabu, 12 Desember 2018

Hikmah dari Belajar Sabar dan Ikhlas

 Melakukan kesabaran dan keikhlasan itu benar adanya akan membuahkan hasil yang nggak disangka-sangka. Tetap yakin dan percaya akan janji Allah itu nggak akan membuat kita kecewa. Knapa aku bilang begitu, karena sedikit banyak saya belajar sabar dan ikhlas dalam kehidupan saya sehari-hari. Sabar buat menghadapi segala sesuatu yang kita hadapi dan ikhlas untuk menerima segala yang kadang buat kita nggak terima atau nggak pas dalam benak kita.
Ada hal yang membuat saya banyak belajar tentang sabar dan ikhlas, yaitu kejadian dimana saya sempat kehilangan anting emas pemberian almh. Ibu. Ngerasa anting udah nggak nyantol di telinga itu hari Jumat kamern tanggal Sembilan Desember 2018, bangun pagi mendadak telinga ini enteng sebelah. Ketika meraba, anting udah nggak ada. Sontak saya kaget banget, secara yang hilang ini barangnya bernilai banget secara pemberian dan secara ada harga jualnya.
Setelah tahu anting itu nggak ada, saya langsung mencari di seluruh kamar, dan jalanan yang sebelumnya saya lewati. Saya agak berprasangka sih kalau jatohnya di Mall, karena semalam sebelum anting itu nggak ada saya sempat ke Mall. Tapi saya nggak mungkin kesana, terlalu effort buat saya. Yaa satu-satunya cuma ikhlasin, karena kalau saya ngejar sampai ke Mall segala, bakal percuma, karena pasti sudah ada yang nememukan. Mau nggak mau kudu nerima kalau barang itu hilang.
Kehilangan anting ini membuat saya saat ini merasa ngenes banget, “Ya elaah mau aja ke Jakarta, pake acara hilangny anting emas..” yaa meskipun nggak keliatan karena ketutup krudung, tapi nggak enak aja pake anting sebelah doang. Saya akhirnya sempet mikir buat beli baru lagi, jadi yang sebelah saya jual tanpa surat, karena saya juga nggak tahu dimana surat a.k.a nota pembeliannya itu disimpan. Dan waktu itu mupeng juga sih pas tanya-tanya harga emas beli di toko langganan, karena harganya setengah juta lebih per gram-nya. Nggak mungkin juga dalam hitungan detik bisa kebeli, Jangankan detik, nunggu minggu depan juga kagak bisa. Yaaa paling tidak bulan depan lah habis gajian atau nggak, ya pinjam ke tante atau kakak buat beli anting baru. Ahhh tapi buat apa sih buru-buru toh nggak terlalu urgent dan hanya prastise aja. Ya udah lah mikir ke Jakarta dulu aja kalau gitu. Saya hanya bisa berdoa, “Ya Allah kalau memang anting itu rejeki saya, maka temukanlah, karena saya nggak tahu hilangnya dimana. Kalau memang bukan rejeki saya, maka saya ikhlas, saya anggap ini sodaqoh..” dengan perasaan yang melas tapi berusaha untuk tetap sabar dan ikhlas. Dan berusaha juga untuk tidak mengungkit kembali, katanya sih gitu, kalau udah ikhlas ya udah nggak perlu dibahas, takutnya malah nggak ikhlas beneran. Sekuat mungkin saya menerima, jadi gimana-gimana saya buat enjoy aja, yang penting saya tetap sehat dan bisa cari duit lagi buat beli yang baru. 
 
Hingga tanggal duabelas Desember 2018, tepat jam sepuluh pagi, ketika saya tengah-tengah mengerjakan pekerjaan saya di kantor, tiba-tiba seorang OB di ruangan saya nyamperin dan menyodorkan sesuatu ke saya. “Mba sampeyan ya sing kehilangan iki..”, awalnya saya pun melihat seadanya, dan ketika saya melihat lagi apa yang disodorkan bapak OB, mata saya langsung terbuka lebar-lebar, seakan-akan nggak menyangka barangnya ada di depan mata. “Iyaaaaa pak ini punya sayaaaa…nih lihat anting saya satunya sama kan..” reflek saya menunjukkan anting saya satunya dan telinga saya yang tanpa anting. “ooh yawess.. soale wingi aku nemu nak kunu dino sabtu…wong2 tak takoki ga ngroso nduwe.. yowes tag simpen” jawab bapak OB sambil nunjuk kearah mejanya user saya. Dan saya inget , jangan-jangan jatuhnya ketika hari Jumat dimana saya sorenya sempat sholat Magrib di dekat meja user saya. Agak kaget aja nggak menyangka hilangnya Jumat dan baru saya ketahui hari Rabu tanggal duabelas Desember 2018. Alhamdulillah ya Allah…
Mungkin kalau orang dengar ada yang mengatakan, ahh berlebihan. Yaaa mungkin bagi mereka yang berduit dan mungkin bagi mereka yang nggak tahu sejarahnya. Betapa senangnya saya ketika anting yang saya kira hari Sabtu malam tanggal tujuh Desember 2018 hilang dan baru ketemunya hari Rabu tanggal duabelas Desember 2018, cukup ada hitungan hari juga sih.
Dari kejadian ini, saya pun mengambil pelajaran dan hikmahnya, bahwa kalau kita sabar dan ikhlas, insya Allah , Allah akan menggantinya, yakini janji Allah nggak salah. Dan teguran-teguran macam gini yang menyadari saya kalau Allah masih sayang sama saya. Masalah atau cobaan yang datang bukan berarti Allah membenci, tapi mengingatkan bahwa Allah kangen sama curhatan kita a.k.a berdoa dan beribadah kepadanya. Keep Positive Thinking with Gusti Allah…
Alhamdulillahnya saya nggak kurang- kurang nih sama Allah dan berterimakasih dengan si Bapak OB yang nemuin, Sebagai apresiasi dan ungkapan terimakasih, karena si bapaknya yang jujur, saya kasi bapaknya roti bakar dan es tea leci. Mengingat dulu pernah dengar ada OB yang kabarnya ambil laptop anak kontrak, kadang saya takut. Padahal itu jelas siapa pemiliknya. Sedangkan anting kan jelas-jelas nggak tahu pemiliknya siapa. Kalau orang nggak jujur, dia pasti udah ambil tuh anting dan pura2 nggak tahu (who knows?).
Yah begitu lah, mengambil pelajaran itu nggak harus dari hal besar, hal kecil pun yang itungannya (mungkin) sepele bisa menjadi pelajaran yang berharga dan berdampak besar.