Kamis, 10 September 2020

Lelah Harus Mulai Darimana



Terakhir ambil cuti kerja, waktu lebaran tahun 2020 kemarin. Tadinya udah ada rencana lebaran ambil tiga hari, karena pandemic, jadi aku mengurangi menjadi dua hari cuti aja. 
Setelah itu aku udah nggak ambil cuti sampai sekarang dibulan September 2020 ini. 

Jujur aku nggak tahu keputusan random ku ambil cuti dihari Jumat ini dan apakah menjadi keputusan yang positif atau bakal menjadi pergunjingan orang-orang kantor ku terutama tim ku sendiri. Apakah bakal menjadi penilaianya negative mereka ?, semoga aja nggak ya. Karena jujur aja, aku cuti sekarang merasa nggak tenang. Hati ini merasa ada yang belum selesai. Dari awal Agustus pengennya udah ngajuin cuti, tapi keadaan yang nggak memungkinkan karena ada project yang membuat aku jadi merasa "mampu nggak ya aku". Bukan karena jobdesknya tapi lebih ke language barrier. Ya aku nggak jago ngomong Bahasa Inggris. dan itu menjadi weakness ku. Dibilang malu, iya aku malu, apalagi kalo ada yang tahu aku anak guru Bahasa Inggris. Gimana lagi, kan kemampuan manusia udah ada porsinya. Mau belajar, ya bisa aja, tapi lagi-lagi kemampuan seseorang ada tingkatannya. Kebetulan aku diberi tingkatan yang nggak tinggi. Belajar kilat pun juga nggak bisa akan selesai bagaikan sulap atau kayak didrama, hanya dalam waktu semalam bisa bertukar karakter, ya semua pasti ada proses. Apalagi kantor tempat aku bekerja adalah perusahaan yang sudah international, dimana pasti akan terlibat dengan banyak orang asing dan komunikasi utamanya adalah Bahasa Inggris. Meskipun aku paham dengan apa yang harus aku kerjakan, tapi kalo komunikasinya nggak bagus takutnya akan terjadi salah persepsi, jadi malah fatal. Mungkin kalo ada yang bilang, kan bagus langsung praktek ngomong, heloow.. iya kalo sekadar ngomong santai, tapi ini urusan kerjaan, bisa-bisa berabe urusannya. Belum lagi dengan omongan orang-orang diluar sana, "oh iya dia ga bisa Bahasa Inggris...bla bla bla .." (my assume aja sih, semoga salah).
Dibilang nyesel, oke aku nyesel, knapa dulu jaman masih sekolah aku nggak minta kursus Bahasa Inggris. Knapa ini Knapa itu. Ya akhirnya penyesalan selalu belakangan.

Sekarang mau nggak mau harus aku hadapi, ibarat kata ini saatnya aku mulai berjuang.  Mungkin nggak mungkin aku untuk resign. Memutuskan untuk resign pun juga nggak mudah, apalagi saat pandemic seperti ini. Beberapa orang yang dirumahkan, penghasilan berkurang. Aku bukannya nggak bersyukur dengan keadaan sekarang. Aku sangat sangat bersyukur masih bisa menerima gaji sekian juta, masih bisa makan yang aku pengen makan, dan satu hal lagi yaitu masih bisa menikmati tidur dikamar sendiri yang ber-AC (jujur ini udah keinginan ku sejak dulu pengen punya kamar ber-AC), meski ya sekarang lagi-lagi aku berjuang sendiri. Dan sebenarnya aku masih butuh orang tua untuk bisa memberikan aaku wejangan atau nasihat aku harus ngapain, karena saat ini aku kadang suka bingung sendiri, apa dulu yang harus aku kerjakan. Banyak rencana yang ada dikepala ini, tapi rasanya nggak mungkin semua dijalankan bersamaan. Misalnya, aku tuh pengen jadi penulis yang bisa punya karya, lokal-lokal aja aku udah senang, alasannya jika kita kita nantinya sudah dipanggil Tuhan lebih dulu, aku ada karya yang bisa dikenang. 
Kedua, aku pengen bisa punya bisnis sendiri. Dulu tahun 2017 aku sudah punya angan-angan mau punya bisnis mukena dengan motif, packaging yang unik, dan bahan yang nyaman biar orang yang pakai itu terasa nyaman juga makin khusyuk. Entah knapa juga aku bingung harus memulai dari mana. Teman yang punya bisnis konveksi dan jahit menjahit juga udah ada, cuma mencari bahannya itu butuh effort. Akhirnya belum terlaksana.  

Trus disaat-saat ini lagi ditawari bisnis MLM seperti asuransi dan skincar. Awalnya aku juga kurang tertarik, sempet berpikir juga susah, tapi contoh yang terbukti adalah istri dari kakak sepupu aku yang sudah mencapai tittle senior manager. Kalau dia bisa knapa aku nggak. Yaa, aku pun mula tertarik, apalagi aku juga antusias dengan yang namanya skincare itu. Kualitasnya juga membuat aku amaze juga setelah nyoba sekali. Akhirnya aku gabung, dan tadinya pengen aku jalani dua-duanya antara kantor dan bisnis MLM ini, Mencoba untuk multitask,  namun lagi-lagi kemampuan saya nggak bisa. Aku harus fokusin salah satu, apalagi kalua lagi sibuk-sibuknya sama kerjaan kantor. Kalau udah sibuk sama kerjaan kantor, pastinya udah kelelahan duluan, Lelah berpikir  trus ujung-ujungnya pusing. Knapa nggak waktu aku udah nggak lanjut dari kerja di Radio, trus ada penawaran MLM ini. hemm...

Membuat suatu keputusan dan pilihan itu nggak mudah juga. Harus benar-benar dipikirkan secara matang. Oleh karena itu, aku butuh orang yang bisa memberi aku nasihat dan keputusan, "udah kamu mending begini dulu..", ibarat kata ada yang membimbing aku. 

Sungguh aku nggak bisa berkata-kata. Akhirnya Lelah sendiri menghadapi semuanya dan bingung harus mulai darimana. Satu - satu nya jalan ya cuma berdoa sama Allah minta diberi kemudahan dan jalan yang terbaik. 

Aku nulis gini, hanya pengen bisa ngeluarin uneg-uneg yang nggak tau bakal dibaca orang apa nggak. Satu hari cuti itu berasa bener-bener mau memanfaatkan sebaik mungkin, semua pengen aku kerjakan, tapi nggak tau bakal selesai nggak, bakal bisa tersampaikan nggak, wallahualam.. 




   

Selasa, 18 Agustus 2020

 

Bismillah…

Mata Rahmi terpejam sejenak dan mengeluarkan satu kata “Bismillah..” dengan yakinnya. Dari dalam ia merasa yakin akan keputusannya untuk memulai hidup baru. Hidup yang akan ia jalani seorang diri dikota orang. Meski kota itu adalah kota kelahiran almarhum Ayahnya. Rencana yang sudah ia pikirkan matang-matang sebelum ia memutuskan untuk meninggalkan kota kelahirannya dan meninggalkan sang kakak juga kakak iparnya. Ia ingin mendapatkan pekerjaan baru di Ibu kota. Keinginannya pun terwujud, ia diterima disalah satu perusahaan majalah ternama di Ibu kota. Dan lagi-lagi posisi yang dia dapatkan adalah staff admin. Cuma kali ini admin yang berkaitan dengan social media. Meski pekerjaan copywriting tag bisa ia dapatkan, bagi Rahmi nggak masalah asalah perusahaannya masih berkaitan dibidang creative.

Sesekali kakaknya melihat Rahmi yang sedang berkemas-kemas, sungguh membuat kakak kembali meyakinkan Rahmi, bahwa Ibu kota itu keras, dan hidup disana nggak semudah tinggal di Surabaya. Yah tapi bagi Rahmi, di Surabaya ia sudah merasa lelah dengan kehidupan yang membuat dia tidak bisa melupakan.

Jika dilihat kebelakang, memori pahit itu selalu menghantui pikirannya. Foto pernikahan Bima yang ia dapati membuat dadaknya makin sesak, hingga tak berkonsentrasi dalam bekerja. Bima adalah mantan kekasih Rahmi. Berulang kali Rahmi merasa dikecewakan dan berulang kali Rahmi memaafkan Bima, hingga akhirnya Bima benar-benar pergi dan lagi-lagi tanpa alasan yang jelas. Suatu ketika Rahmi melihat foto dari teman sekolah dasarnya bersanding dipelaminan bersama Bima. Melihat itu, seolah Rahmi merasa terjepit. Nina teman sekolahnya yang cukup akrab. Bahkan saat ini pun, mereka sebenarnya masih keep in touch. Entah bagaimana mereka tiba-tiba menikah. Nina memang orang yang tak pernah bercerita kehidupan pribadinya. Sekalinya terkuak, membuat Rahmi tak bisa berkata-kata.

Belum lagi banyak kenangan-kenangan yang sebenarnya tak bisa Rahmi lupakan bersama kedua mendiang orangtuanya. Mendekat kepada sang pencipta itu sudah pasti Rahmi lakukan untuk meminta yang terbaik. Hingga akhirnya Rahmi terpikirkan untuk mencoba memulai hidup baru di kota kelahiran Ayahnya. Ini bukan sebuah pelarian, tapi Rahmi ingin menghilangkan memori yang pahit sekaligus ingin melihat dunia luar. Selain itu, Rahmi ingin mendekatkan diri juga dengan keluarga kandung Ayahnya.

Diawal bulan Agustus, Rahmi sudah mulai mengirim barang-barangnya ke rumah tante Ola, beliau adalah adik Ayahnya yang paling terakhir.

 

 

 

Senin, 17 Agustus 2020

New Normal



Ini cara aku untuk memulai hidup baru dengan sengaja mencari kerja di ibu kota. Entah langkah yang salah atau tidak. Tapi ini adalah keputusan aku. Bukan lari dari segala masalah, hanya saja ingin memiliki suasan baru dan kehidupan baru. Toh aku saat ini sendiri, Ayah dan Ibu ku sudah pergi lebih dulu menghadap sang pencipta. Sementara kakak ku Bersama istrinya tetap tinggal di Surabaya. 

Aku berani pindah di Ibu kota karena keluarga alm. Ayah ada yang tinggal di Jakarta juga, ada tiga yang yang tinggal di Jakarta dan satu tinggal di Bogor. Mereka semua sudah berkeluarga. Namun aku tidak tinggal disalah satu rumah mereka. Aku nggak mau kehadiran ku ini menjadi beban mereka. Meski mereka selalu membukankan pintu rumahnya 24 jam untuk ku. 

Hanya diminggu pertama aku tinggal di rumah tante yang dikawasan Tanjung Priok. Aku memanggilnya tante Ola dan beliau anak paling bungsu. Selagi aku mencari kos-kosan dekat area kantor ku, aku semenatar tinggal dirumah tante Ola. Cukup jauh sih sebenarnya rumah tante Ola ke kantor ku, tapi suaminya Om Jaya yang berbaik hati kasi aku tebengan sampai di halte Busway terdekat. 

Setelah aku mendapatkan kos-kosan yang layak, aku pun akhirnya pindah dan mencoba hidup mandiri. 
Tante Ola dan Om Jaya selalu meyakinkan aku apakah aku tidak berubah pikiran untuk tidak memilih indekost. Tekad aku dari Surabaya sudah bulat, aku nggak mau menjadi beban tambahan ke adik-adiknya alm. Ayah. 

Ketika dihari libur kerja, mereka dan ketiga anak-anak yah yang tak lain mereka adik sepupu ku, ikut mengantar aku pindahan ke kost yang sudah aku pilih. Sungguh tidak menyangka, kostnya cukup homie, pemilik kosnya adalah sepasang suami istri yang sudah berusia setengah abad. Namanya Bu Astri dan Pak Rahmad. Ketika pertama kali aku datang, kesan pertama ku melihat kosan ini, sekilas tak nampak seperti kos. Bahkan aku melihat rumah yang asri dengan banyak hiasan tanaman-tanaman, baik tanaman hias atau tanaman toga. 

Kedatangan ku dan keluargnya tante Ola disambut hangat oleh Bu Asri. Bahkan kami layaknya keluarga keluarga yang sedang berkunjung padahal kami baru bertemu dengan Bu Asri. Dan sungguh diluar dugaan, sebelum aku melihat kamar kosnya, kami sedikit berbincang-bincang saling memperkenalkan satu sama lain. Tag ketinggalan dengan ketentuan dan aturan di kos ini. Suasana pun juga terasa hangat, ketika Bu Asri menyuguhkan sponse cake dan teh. Setelah berbincang-bincang sebentar, barulah Bu Asri mengajak saya dan semuanya melihat kamarnya. Rupanya dibelakang rumah Bu Asri cukup luas, bahkan anak kos yang membawa kendaraan Pribadi baik mobil atau motor bisa dimasukkan ke dalam halaman belakang melalui pintu samping. Yah rumah Bu Asri posisinya pas ditikungan, jadi ada dua garasi. Nah garasi belakang langsung ke kamar kos. Kamarnya nggak banyak, hanya enam unit saja. Sengaja Bu Asri nggak membangun kamar banyak. Jadi anaknya juga enam orang saja. Kebetulan penghuni sebelumnya barusan dua hari yang lalu pindah, karena ia harus balik ke kampung halamannya. 

Rabu, 10 Juni 2020

Contracted or Permanent, 'no problemo' yang Penting Halal



Siapa sih yang nggak pengen mendapatkan kerjaan yang baik, penghasilan tetap yang diatas UMR, dan memiliki tim atau teman-teman kantor yang baik. Pasti pada mau kan. Setiap dikehidupan kerja atau perkerjaan pasti ada suka dan dukanya. Disini aku sedikit cerita dukanya menjadi pegawai kontrak atau kerennya contracted. 

Aku bukannya tidak bersyukur dengan kerjaan ku sekarang, sangat bersyukur, meskipun status yang aku di kantor bukanlah pegawai tetap. Menjadi pegawai kontrak yang dimana masih ikut dalam sebuah perusahaan outsourch itu nggak mudah. Mungkin beberapa ada yang merasa baik-baik saja. Mungkin juga sebenarnya ada yang merasa ini nggak enak, entah karena bosnya, timnya, kerjaannya atau emang ada beberapa yang menjadikan tekanan tersendiri karena statusnya bukan pegawai tetap.

Nah tekanan itu kadang nggak semua orang bisa menerima, ada yang menerima ya karena dia orangnya cuek, misalnya. Atau dia bisa menerima tapi dengan terpaksa. Nah sepertinya aku termasuk yang terakhir. Aku bisa menerima, karena terpaksa dan agak tertekan. Knapa begitu ? karena aku kadang bisa menerima dengan posisi status contracted yang dimana menjadi seorang pegawai tetap nggak semuanya dianggap. Yah istilahnya dinomorduakan. Ibarat kata, kayak ikut atau tidak diikutkan tidak ada pengaruh besarnya atau hanyalah sebagai bayangan.  "Ya iyalah siapa kita…",  itu sih kata-kata yang biasa kita ucapkan kalo ada acara atau ada sesuatu gitu yang melibatkan pegawai kontrak, tapi kami dianggap seperti tidak ada. Kalau terpaksa, ya karena belum mendapat pekerjaan yang lebih baik atau permanent. Jujur aja mencari pekerjaan sekarang itu nggak gampang gesss. Kayaknya kalau bukan dari lulusan luar negeri bakal effort ya buat cari kerja di perusahaan ternama. Bahkan yang lulusan luar negeri aja belum tentu juga bisa kerja di perusahaan ternama, ya semua itu tergantu rejeki masing-masing. Sekarang juga mulai mencari pundi-pundi uang lewat berjualan. Nggak sedikit anak muda yang sekarang jadi entrepreneur  dadakan. Apa aja dijual asal itu worth it. 

Kalau dilihat dalam tim yang lain, aku sih cukup bersyukur kok dengan tim ku sekarang yang masih menganggap aku ini "ada". Namanya juga contracted ya, kadang masih ada sisi kayak nggak dianggap juga, jadi kalo mau ngapa-ngapain layaknya officematte beneran itu nggak bisa akrab dengan leluasa, jadi kayak masih ada batasannya. Itu menurut pandangan aku ya.

Aku nggak tau percis bagaimana pandangan orang lain terhadap pekerja dengan status kontrak, meskipun itu sesama anak contracted juga, karena kalau aku liat di tim lain, mereka itu merasa pegawai kontrak sama dengan pegawai tetap. Jadi ya dalam pertemanan sepertinya mereka sama hanya berbeda seragam dan fasilitas. Entah karna mereka satu suku yang sama atau memang bos mereka tidak memandang kamu pegawai kontrak atau bukan. Ada juga tim yang masih memandang kamu pegawai kontrak jadi levelnya beda, ada..

Jadi intinya, kalo orang melihat aku , wah kerja di perusahaan rokok ternama, heyyyy… lihat dulu kita sebagai apa. Yah pasti bangga bisa masuk, tapi kalo sebagai pegawai tetap langsung atau pegawai kontrak langsung dari perusahaan itu sendiri. Orang tahunya aku kerja di perusahaan itu, padahal aku kantor sebenarnya adalah kantor perusahaan outsourch. Aku hanyalah supporting administration a.k.a pegawai kontrak. Dan kalo ditanya, 'kerja dimana'.. jawab aja lokasi kerjanya tapi dilengkapi dengan 'sebagai contracted dibawah naungan perusahaan… (outsourch)'. Aku nggak malu kok, biasa aja. Karena kenyataannya emang gitu. Aku jelaskan apa posisi saya apa adanya.

Satu lagi, aku juga nggak tahu percis apa tanggapannya orang lain terhadap diri aku sebagai pegawai kontrak yang bukan dari perusahaan rokok itu langsung. Mereka mau ngomong negative atau positif itu sih urusannya dia dan keluarganya. Haknya dia juga sih kalo dia mau ngomong orang, karena itu juga ada dan keluar dari pikiran serta ucapnnya. Kalau dia nggak ngomongin ya syukur, kalo ngomongin positif ya gpp, kalo ngomongin negative ya taulah dosanya siapa yang nanggung.
Seperti berlaku bagi semua manusia, tak terkecuali dengan aku sendiri. Makanya aku lebih percaya, ucapan itu adalah harga diri kita. Naudzubillah mindalik…

Aku cerita begini hanya garis besarnya saja. Untuk detailnya seperti apa, aku rasa beragam dan pendapat orang pasti beda-beda. Pastinya mau dia pegawai kontrak atau tetap, harusnya sama saja, yaitu bekerja dengan benar. Aku jadi inget perkataan dari salah seorang OB di kantor aku bekerja ketika pertama aku masuk kerja. Si OB cewek ini bilang, 'kerja sing nggenah dan hati-hati'. Kata-katanya wajar aja diucapkan dari orang tua ku sendiri. Tapi ini beda, orang yang baru aku kenal dan dia posisinya bukan seorang employee tetap atau teman sesama pegawai kontrak (semoga yang membaca ini tau lah maksud aku). Waktu itu aku berusaha berdamai dengan siapa yang bicara ini, dalam arti aku nggak bole memandang dia seorang OB tapi kata-katanya yang cukup mengena. Kata ulang Hati - hati ini menurut aku makna luas, banyak persaingan bisa, posisi sebagai 'pegawai kontrak'  bisa, soal pekerjaan juga bisa, atau hati- hati karena disini banyak 'godaan' juga bisa, yah luas lah. Pokoknya reminder mba OB ini dalem lah maknanya.

Begitu lah sedikit cerita tentang pegawai kontrak dari perusahaan oustourch versi aku. Jika ada pernyataan atau kata-kata yang kurang berkenan mohon maklumi dan dimaafkan.










Sabtu, 25 April 2020

hei mba Shinta

Shinta
Ibu satu anak ini adalah wanita yang kuat dimata saya. Kekaguman saya dengannya tidak pernah berhenti. Ketegarannya, semangatnya, dan keibuannya itu yang membuat saya kagum. Nggak mudah mengambil keputusan untuk menikah muda. Usia 20 tahun dia sudah dinikahi seorang laki-laki. Di usia seperti itu saya masih belum kepikiran untuk nikah. Jangankan menikah, punya pacar aja, saya nggak kepikiran. Hidup saya diusia itu masih ingin main-main dan nongkrong dengan teman-teman. Semenjak saya ketemu mba Shinta, saya mulai sadar dan berfikir kedepannya harus seperti apa.

Panggilan akrab saya ke wanita satu ini dengan sebutan mba Shinta, karena saya lebih muda empat tahun dari dia. Perjuangan seorang mba Shinta cukup panjang setelah menikah diusia 20 tahun. Laki-laki yang menikahinya cukup membuat mba shinta sedih karena suami yang ia nikahi ternyata pengidap kanker. Penyakit yang diderita suaminya ketahuan ketika mba Shinta sudah memiliki anak usia lima tahun. Dan tuhan berkata lain. Sang suami lebih dulu menigggalkan mba Shinta disaat Gerry anak semata wayangnya pertama masuk sekolah dasar. Pernikahan yang cukup singkat untuk mba Shinta. Hanya bertahan sekitar lima tahun, ia harus menerima kehidupan baru sebagai seorang Janda karena mati cerai. Gerry meskipun masih dibawah usia, dia sudah paham Ayahnya kemana. Hanya menangis dan menangis yang dilakukan mba Shinta dan Gerry, karena kehidupan ini berubah dengan drastis. Satu yang dipikiran mba Shinta, dia harus bisa menjadi seorang ibu sekaligus seorang Ayah bagi Gerry. 

Banyak teman-teman mba Shinta menyarankan untuk menikah kembali. Mencari sosok Ayah untuk Gerry. Memang mba Shinta masih muda. Dia bisa saja untuk menikah kembali. Namun nggak semudah itu mba Shinta melakukan itu, karena ia masih kehilangan laki-laki yang ia cinta dan sayangi. Dan ini bukan perceraian hidup, melainkan perceraian mati yang hanya lewat mimpi kemungkinan mba Shinta bisa bertemu dengan suaminya. Belum lagi Gerry yang masih belum mengerti apa-apa, apalagi harus menerima orang baru menggantikan Ayahnya untuk dikehidupannya. 

"Gerry harus sekolah.. harus.."
hanya itu yang ada dipikiran mba Shinta. Mau nggak mau mba Shinta yang akan banting tulang menjadi kepala keluarga. Ia juga nggak mau merepotkan kakak, adik, dan orang tuanya. Apalagi kehidupan mereka tinggalnya tidak dalam satu kota yang sama dengan mba Shinta. 

Waktu itu.. 
saya bertemua dengannya, karena saya ngekos yang bersebelahan dengan rumah mba Shinta. Kebetulan kosan saya seperti rumah dan anak kosannya juga nggak banyak. Ibu kos juga tinggal dirumah itu bersama suami. Si Gerry sering dititipkan ke ibu kos. Dengan senang si ibu kos menerimanya, karena ibu dan bapak kos tidak memiliki anak. Kami pun sebagai anak kos, kadang juga dianggap sebagai anak-anaknya. 

"Sayang sini cium mama dulu nak,,mama lanjut kerja ya sayang,, kamu baik2 sama uwak, jangan rewel ya nak.." ujar mba Shinta yang baru menjemput Gerry dari pulang sekolah. Mba Shinta membiasakan memanggil ibu kos dengan uwak. Cukup membingungkan buat mba Shinta, ibu kos memang sudah setengah abad usianya. Kalaupun dipanggil nenek, wajah bu kos juga belum terlalu tua renta. Kalau tante, ya taulah..kalau bude, itu nggak mungkin dan agak aneh, karena ibu kos bukan orang jawa timur atau jawa tengah melainkan orang sunda. Jadi uwak saja. 
"Mama pulangnya jangan malem- malem yaa.." jawab Gerry dengan polos dan agak memelas. 
"Iya nak.. " jawab mba shinta sambil mengangguk untuk meyakinkan Gerry. 
"Udah mba shinta berangkat ajah, si gerry mah aman sama sayah.." tambah ibu kos
"makasi ya bu, saya janji nggak malem-malem"
setelah itu mba shinta kembali menaiki motor maticnya dan sesekali melambaikan tangannya untuk Gerry. 
Melihat kejadian ini, sayah cukup terharu dan tiba-tiba merindukan ibu saya. 

Gerry anak yang pintar dan baik. Disaat dia dititpkan dia berusaha nggak rewel. Uniknya dia nggak menjadi anak yang apa-apa harus dituruti. Meski dia masih dibawah umur usianya, dia nampak tahu, kalau jadi anak nakal itu nggak bole. Bahkan dia merasa sungkan kepada orang yang bukan keluarganya. Terkadang ibu kos merasa kasihan dengan Gerry, hingga suatu hari Gerry dibelikan banyak mainan bahkan jalan-jalan ke mall bersama suaminya. Yah bak anak atau mungkin cucunya sendiri. 
Makanya nggak heran, kalau bu kos seneng menerima Gerry. Seperti kali ini, bu kos mau belanja bulanan. Dia mengajak Gerry ikut ke supermarket yang nggak jauh dari komplek perumahan ini. Kebetulan suami ibu kos lagi ada urusan dengan tukang listrik, jadi ibu kos mengajak saya untuk menemani. Yah saya sedang ambil sisa cuti saya yang masih ada. 
Ketika kami pergi bertiga, saya merasa memiliki keluarga sempurna. Ibu dan ponakan. Emm.. yah ponakan, karena saya merasa belum cocok menjadi ibu. Hahaha
Gerry tadinya nggak mau ikut, tapi si ibu ingin membelikan Gerry burger disalah satu makanan cepat saji yang dekat dengan supermarket itu. Di resto makanan cepat saji itu, Gerry lahap sekali makannya. Saya yang didepan cukup ikut merasa senang melihatnya. Ibu kos juga senang bisa membahagiakan Gerry meski bukan anak sendiri. 

Hari sudah mulai redup. Kami baru tiba di rumah pas adzan magrib. Janji mba Shinta ditepati. Ia sudah datang lebih dulu dan sedang ditemani suami bu kos di teras rumah. 
" mamaaaa..." ujar Gerry kencang dari dalam mobil.
setelah mobil terpakir sempurna, Gerry bergegas keluar dari mobil dan menghampiri mba Shinta.
"sayaang habis dari mana?"
" habis beli burger maaa sama uwak sama tante Rahmi"
" puji tuhan bu.. terimakasih yaa.. aduh jadi ngerepotin ibu.." ucapan terimakasih dari mba Shinta tag henti kepada bu kos. 
" eehh ulah gitu.. nggak apa-apa mba.. sayah teh seneng ngajak gerry jalan-jalan, lagian sekalian saya mau belanja bulanan" sahut ibu kos dengan logat sundanya. 
"Puji tuhan.. semoga tuhan yang membalas ya bu"
"iyah iyah.. sudah sok atuh kamu istirahat..."
tag lama setelah berpamitan, mereka pulang. 

Saya dan mba Shinta belum saling mengenal satu sama lain waktu itu. Mba Shinta cukup sibuk rupanya hingga dia jarang ngobrol lama dengan bu kos atau bapak kos bahkan sama anak-anak kos juga jarang. Tapi saya bisa tahu kehidupan mba Shinta itu dari ibu kos. 
Beliau pernah bercerita tentang kehidupan mba Shinta, karena ibu memang termasuj warga lama daripada mba Shinta.
Setelah menikah dua bulan, shinta dan suaminya langsung tertarik dengan rumah itu. Ibu yang menemani dia dan suaminya melihat -lihat rumahnya. Kebetulan si pemilik sebelumnya sempat menitipkan kunci ke saya. Jika ada orang yang mau beli rumah itu, bisa langsung menemui Ibu. Melihat keduanya waktu itu, membuat Ibu teringat masa muda Ibu dengan bapak. mereka bahagiaaa sekali. Wajah cerianya Shinta kala itu selalu terpancar setiap kalau pagi ketemu dengan Ibu. Sebelum punya Gerry, mba Shinta sering main ke rumah Ibu dengan membawa salad buah buatannya. Eh Shinta jago masak lho. Apalagi masakan Manado. Dia itu orang Jawa Tengah campur Manado. Suaminya juga orang Jawa. Setelah dengar Shinta hamil dan memiliki Gerry, Ibu bagaikan orang tuanya. Ibu juga Ikut bahagia dan cukup iri dengan Shinta, karena diusia yang masih muda sudah memiliki keturunan. Ibu paling suka main ke rumah  Shinta, karena dia selalu masak. Bukan karna nebeng makan yah. Tapi kegemarannya masak itu lho. 
Shinta memang memiliki cita-cita ingin membuka catering masakan Manado dan Salad buah. Namun Tuhan berkata lain yah, suaminya kena kanker stadium tiga. Hari-hari Shinta hanya merawat suaminya di rumah sakit. Tapi nggak lama, karena suaminya harus pergi selama-lamanya.Yah sekarang dia harus banting tulang kerja untuk Gerry. Cukup menyedihkan sih, anak sekecil Gerry harus menerima hidup sebagai anak yatim. 
Mendengar cerita Ibu kos, cukup membuat saya tersentuh. Saya juga seorang anak yatim piatu tapi disaat saya sudah dewasa dan sudah memiliki pekerjaan. Tapi saya belum bisa membuat kedua orang tua saya bahagia dan melihat saya menikah. 

"Sekarang mba Shinta kerja dimana bu?" tanya ku
"Terakhir kerjanya jadi kasir di restoran padang dekat sini, cuma ibu belum tahu apakah dia masih disana apa sudah nggak, soalnya dia pernah bilang ingin resign karena disana kerjanya ada shift malam, dan dia kan nggak bisa ninggalin gerry sendirian, kalau sekarang ibu juga gatau"
" kalau orang tua mba shinta dimana bu?" 
" ngggak banyak cerita yang shinta sampaikan tentang keluarganya.. cuma dia hanya bilang, ibu bapaknya beda pulau dengannya" 

Saya jadi berpikir, untuk mencarikan lowongan untuk mba Shinta. Karena pasti mba Shinta butuh biaya banyak untuk Gerry. Tapi saya sendiri bingung juga mau kasi info. Takutnya dia tersinggung. Iya kalau dia butuh pekerjaan baru, kalau nggak, bagaimana?. Apalagi saya sebelumnya nggak akrab. 




Jumat, 03 April 2020

Si Ibu Pengertian Banget Deh !!


Pergantian atasan atau bos di kantor, kadang aku mikir kalau apakah aku ini nantinya bisa lanjut terus kontrak kerja aku di kantor atau nggak (semoga lanjut). Bukan karena bosnya galak, atau kerjaan yang berat, tapi lebih soal komunikasi. Bos ku sekarang bukan orang Indonesia. Beliau dari Eropa, jelas-jelas komunikasi yang digunakan pertama adalah menggunakan Bahasa Inggris. Mendengar pergantian bos orang bule, aku langsung kepikiran dengan keahlian Bahasa Inggrisku yang pasif. Takut, Malu, dan nyesel itu bercampur jadi satu. Namun kenyataannya harus dihadapi, apalagi di-era global, itu sih kata salah satu teman ku, ngomongnya pelan tapi mengena banget. Salah satunya sih harus belajar dan membiasakan diri.

Aku juga sempat tanya ke teman-teman ku yang ibaratnya jago lah ya ngomong Inggris, mereka ada yang dari jaman sekolah sudah ikut kursus dan ada juga yang sekadar liat film bule tanpa subtitle atau terjemahan Indonesia. Selain tanya ke mereka yang jago Inggrisnya, aku juga tanya sih ke teman-teman yang lain yang ternyata mereka juga nggak jago-jago amat kalau soal ngomong Inggris. Ada beberapa yang mereka bertanya-tanya sama aku, "trus awakmu piye ngomonge ?". Ya pakai Bahasa Inggris tapi acak kadut hahahha.. sebisa aku ajah, asal orang itu ngerti.

Kembali lagi ke manager aku yang berasal dari Polandia itu, ketika bergabung dengan tim mereka, si ibu manager ini ingin melakukan perkenalan dengan tim di Asia, which is ya di Surabaya - Indonesia. Waktu ada info tentang perkenalan by skype meeting video call, awalnya aku nggak di-invite dalam meeting tersebut. Dan diluar ekspetasi, tiba-tiba senior ku ngajak. Ya udah mau nggak mau aku ikut juga. Dari situ si ibu manager pun ingin berkenalan satu sama lain, yang dalam hati aku bilang 'mateng kon yo' hahaha.. Waktu itu memang aku nggak dikenal sih sebelumnya sama tim mereka disana, jadi aku kena giliran paling akhir. Ya udah aku samain saja cara bicaranya, cuma dikalimat awalnya aja, terakhirnya aku cuma bilang kalau aku dari awal masuk langsung bergabung ditim ini. Eh nggak lama senior ku melanjutkan, bahwa aku orang terlama yang berurusan dengan system ini, langsung dong si ibu nampak amaze... emm  Bagooooss!!

Untuk selanjutnya, si ibu berencana ingin lebih dekat lagi secara personal. Nah ini, inti dari apa yang sebenarnya aku takutkan. Sebenarnya nggak takut karena interview one on one sih, cuma aku takut dia nggak paham dengan ucapan ku dan begitu sebaliknya, ntar jadinya aku kayak orang bego. Undangan itu sudah dikirim sama beliau via email masing-masing. Si ibu hanya ingin tahu, apa saja yang dikerjakan sehari-hari dan perfoma apa yang sudah dibuat dari setiap orang. Lagi -lagi aku mendapat giliran akhir. Meskipun begitu, jantung ini sudah berdetak kencang dari si senior aku di-interview pertama. Aku pun nggak ragu tanya-tanya dengan mereka yang beberapa ada yang udah diwawancara, alhamdulilllah mereka nggak pelit sih ngasi informasi. Bahkan ada yang menyarankan, jika ada pertanyaan mengenai performa by system bilang saja, aku not aplicable. Yah, aku cuma anak contracted, dimana nggak semua aku dapat termasuk dalam sistem yang bisa dibilang untuk penilaian perfoma masing-masing pegawai, karena ini hanya untuk pegawai tetap. Rata-rata pertanyaan yang diajukan ke mereka itu sama, kecuali tentang sistem tadi. Oke aku pun mulai merangkai kata-kata dan aku hafalkan hahaha.. padahal juga balik lagi, pertanyaannya apa selanjutnya dari beliau, tapi setidaknya jika pertanyaannya mostly sama, ya aku sudah siap gitu. Sumpah dua minggu sebelumnya aku belajar bahasa Inggris lewat youtube. Namanya penilaian orang ya, aku sendiri juga nggak tau, ada beberapa buku dan artikel yang mengatakan, 'cara singkat belajar bahasa Inggris'. Ada juga buku tentang tips mahir dalam berbahasa Inggris dalam waktu enam bulan, dua bulan, bahkan satu bulan. Njirrr  !! ini dua minggu mameeen, mau nggak mau double effort ya. Hanya satu sih yang aku lakukan selain belajar kilat, yaitu berdoa hahaha. Semoga si ibu nggak banyak mengajukan pertanyaan dan semoga durasinya dipercepat.

Waktu interview tiba, aku berusaha setenang mungkin, nggak gugup, karena kalau gugup bakal membuyarkan konsentrasiku. Tepat jam dua siang, skype meeting sudah dimulai. "hallo.." ujarku dibalik telepon. Dan nggak lama si ibu menjawab dengan hangat dan langsung menyakan kabar. Alhamdulillah aku masih bisa menjawab dengan benar. Namun, setelah saling sapa menyapa, aku memberanikan diri untuk memulai dan memberikan statement  permohonan maaf lebih dulu kalau aku nggak bisa berbahasa Inggris dengan baik. Eh si ibu bales dong, dia pun memaklumi gaesss. Intinya dia bilang, dia nggak masalah untuk bisa berbahasa Inggris dengan baik atau tidak. Mungkin bagi dia asal komunikasinya lancar dan bisa saling memahami. Oh thanks god !!. Setelah itu mulailah dia mengajukan pertanyaan, pertama tentang aktifitas sehari-hari apa aja yang aku lakukan. Kedua, soal sistem performa itu, tapi setelah aku jawab not aplicable, doi tanya lagi yang jujur aku nggak mudeng. Duaaaaarrr,, !! ya udah aku bicara seadanya sebisa aku, entah dia paham apa nggak, tapi dugaan aku beliau nggak paham hhihihi. 'ya udah lah ya', mungkin dalam hatinya dia begitu dan nggak lama dia mengakhiri wawancara ini. Supaya aku nggak keliatan dodol-dodol amat, aku bilang, jika aku ada pertanyaan, bole ya saya kirim email ke kamu (dengan bahasa Inggris seadanya). Eh si ibu paham dan  nggak masalah lho, bahkan terkesan kayak bilang "oh nggak masalah, silakan dengan senang hati". Fiuuuhhh

Setelah wawancara satu persatu di skype phone, si ibu punya rencana lagi yaitu dengan monthly meeting, 'weh opo maneh iki'. Rapat bulanan ini bakal diadakan satu bulan sekali dengan semua tim termasuk tim dari Buenos Aires. Oh aman lah ya rame-rame. Rapatnya agak beda, karena perbedaan waktu, jadi dari sisi Indonesia mulainya jam 06.00 pm, mancaaab !!. Kepikiran dong kalau selesainya malam, apakah ada uang lembur ? atau dapat makan ? atau bisa masuk siang ? , ternyata semua itu nggak ada.

Untuk pertama kali ikut rapat dengan semua tim itu, membuat aku agak bingung, karena waktu itu mendekati jam magrib waktu Surabaya. Kalau nunggu setelah rapat, pasti akan mepet sama waktu sholat Isya', jadi ya terpaksa saya telat ikut pertama. Eh telat nya agak lama sih hampir setengah jam. Soalnya habis dari mushola, aku nggak ada kabar dong mau rapat di ruangan mana, karena aku nggak masuk dalam undangan itu, jadi hanya sekadar lewat omongan. Lagi-lagi nasib jadi anak contracted. Akhirnya aku memberanikan diri buat tanya salah satu dari mereka, eh tanggapannya lama gaess, makin mantab aja nih. Aku tahu sih ada atau tanpa aku, juga nggak berpengaruh apa-apa. Okelah nggak apa-apa, niat aku sih hanya satu menghargai ajakan dari senior ku.

Rapat udah mulai setengah jam yang lalu, dan aku masuk ke ruang rapat itu dengan wajah tanpa dosa. Dan benar, aku kayak orang nggak guna disana. Aku sedikit banyak paham dengan apa yang dibicarakan dalam rapat  ini. Selain mereka memperkenalkan satu sama lain juga dari tim Poland (yang berisi sekitar enam orang) dan satu orang dari Buones Aires (BA), mereka juga akan membicara project yang bakal dibahas dirapat selanjutnya.

Ketika dirapat bulanan kali keduanya, ternyata eh ternyata, tim dari Buones Aires bahasa Inggrisnya juga kurang bagus kayak aku. Tahu darimana?, yah darimana lagi kalau bukan hasil rumpikannya teman-teman tim ku. Mereka ngomongin si tim BA ini, karena mereka nggak paham dengan Bahasa Inggrisnya, "aku yo nggak paham sih si valeria ini ngomong apa" salah satu teman satu timku. Aku pun merasa bingung juga sih dengan apa yang diucapkan dari tim BA. Yeahh setelah aku cari tahu orang BA ini termasuk orang Amerika Latin, dimana nggak semua orang bisa Bahasa Inggris, mungkin Bahasa kayak disinetron Maria Mercedes ya, hehehe.. mendengar itu, aku sedikit legah, jadi mungkin anak contracted macam aku masih dimaklumi.

Next Meeting, Aku nggak tahu ya kenapa ada rapat, rapat, dan rapat. Selain ada rapat bulanan, juga ada rapat mingguan yang hanya tim Asia + Indonesia saja, pastinya sama si Ibu manager itu. Awalnya deg-deg-an, tapi lama-lama udah mulai berkurang

Udah beberapa kali ikut rapat mingguan, aku juga merasa deg-deg-an sih, takut si ibu tanya ke aku. Apalagi senior ku pernah bilang gini, "mba nanti kalau meeting, sesekali mba tanya aja, apa yang mau ditanyakan, gapapa, biar kamu sek dianggap", yaelaaahh,, nggak apa-apa deh aku diem aja, yang penting aku paham tentang apa isi rapatnya. Ada atau nggak, memang saya dianggap?. Jadi yaa setiap si ibu bertanya yang mengarah obrolan santai, aku berusaha menjawab, setidaknya ada suara ku.

Aku merasa bersyukur juga sih mendapatkan bos yang pengertian seperti ini. Kejadian waktu rapat dikala sedang Working From Home ini. Rapat yang dibahas adalah tentang proses archiving hardcopy. Disitu si ibu ngajak diskusi bagaimana caranya. Eh si senior ku tanya dong ke aku. Awalnya aku bingung harus pakai Bahasa apa. Jujur, aku nggak mau jadi miss komunikasi. Akhirnya aku bilang aja, 'pakai Bahasa aja ya'. Setelah diskusi, si ibu bilang dong, yang intinya, selanjutnya untuk aku kalau memang menggunakan 'Bahasa' nggak apa-apa. Oh thanks god, thanks mommy magda.. Disitu aku merasa bersyukur tapi ya juga malu, bingung, wes pokoknya bercampur aduk lah.

Dengan adanya rapat mingguan ini, aku pun mulai terbiasa, emm.. lebih tepatnya membiasakan diri, meski rasa deg-deg-an dijam mendekati rapat itu masih ada. Yaaa gimana lagi, kenyataannya harus diterima. Satu-satunya sih ya belajar, belajar, dan membiasakan. Kembali lagi, kadang aku merasa otak aku nggak nyampe, mungkin ya kurang terbiasa ya. Perlu tinggal disuatu tempat yang hanya Bahasa Inggris yang bisa digunakan. Selain belajar dan membiasakan, aku sepertinya harus punya kebranian, soalnya kalau nggak berani kita nggak akan tahu ya salah dan benarnya dimana.

Ok fighting !!




Jumat, 20 Maret 2020

WFH #dirumahaja

Semenjak ada kabar wabah COVID-19 ini sudah masuk ke Indonesia, pemerintah menghimbau bahwa beberapa masyarakat untuk bekerja dari rumah, begitu juga untuk anak sekolah juga dihimbau untuk belajar dari rumah.
Nggak banyak juga sih perusahaan atau instansi lainnya melakukan kerja dari rumah, salah satu contohnya kantor dari kakak ipar saya yang masih masuk. Yah lagi-lagi tergantung dari kantornya juga ya, karena berhubungan dengan bisnis masing-masing.

Mendengar kabar work from home atau bekerja dari rumah, mungkin sebagian orang merasa, wah enak ya nggak perlu Bangun pagi ke kantor dan bisa santai kerjanya. lalalalala...
Yah itu pandangan orang ya, tapi bagaimana pun juga menurut saya ada plus dan minus untuk melakukan WFH ini. Kita ngomongin plus-nya deh, pertama emang enak Bangun tidur bisa langsung kerja, nggak perlu repot-repot mau pakai baju apa atau nyiapin seragam ( jika berseragam) pakai baju tidur pun jadi hahaha, terus bisa multitasking alias bisa disambi pekerjaan rumah, apalagi kalau dia seorang ibu yang bisa sekalian jagain anaknya, bisa kerja dimana aja. Kalau minusnya, kita perlu menyediakan wifi di rumah (untungnya rumah saya udah pasang wifi atau mereka yang tinggal dikos sudah include dengan wifi). Kalau mereka yang dirumah nggak pasang wifi?, mereka effort kan buat tathering HP, kalau soal kuota mungkin bisa diklaim ya, tapi bagaimana pun juga agak boros sih. Karena bagaimana pun juga kita kerja untuk kantor, kalau dikantor kita kan pasti dapat fasilitas itu, apalagi bagi mereka yang kerja non-paperless. Kedua, kita harus pintar-pintar jaga mood, maksudnya gini, kalau di kantor, mau nggak mau kita harus tetap focus dengan kerja, entah kita sedang dilanda rasa malas atau ngantuk. Kalau di rumah masih bisa merem lima menit, kalau di kantor nggak kan, nah mood yang seperti itu harus stabil, agar bisa tetap focus. Jadi kalau bisa cari tempat kerja yang nggak deket Kasur. Takutnya kalau kebablasan tidur gimana hahaha bisa-bisa dicariin bos. Jadi intinya tetap focus kerja dan jangan tergoda hal-hal lain. Ketiga, ini sih buat wanita yang sudah memiliki anak, dimana kerja di rumah memang bisa pantau anak juga, cuma kalau anak rewel, atau dia suka deket ibu yang sedang kerja, pasti focus nya lebih berkurang untuk kerja. Keempat, seperti minus yang pertama ini soal wifi, kalau diawal kan soal kita perlu punya jaringan internet, nah kalau minusnya soal sinyalnya. Masing-masing daerah kadang ada yang memiliki sinyal yang bagus dan ada yang sedang-sedang saja, terutama untuk membuka sharing folder internal. Kalau saya Pribadi, cukup nggak stabil sih untuk buka sharing folder, apalagi kalau kita butuh cepat. Jadi nggak secepat kalau kita kerja di kantor. Keempat, kita harus bisa menetapkan jam kerja, nah kalau di rumah Bangun tidur masih bisa langsung kerja, tapi bagi sebagian orang yang tiap harinya ke kantor, pasti ada jadwal yang diatur, misalnya jam setengah delapan harus berangkat dan tiba di kantor jam delapan. Bagi yang kerja di rumah, kalau nggak bisa menetapkan jam kerja, bisa-bisa semua akan berantakan. Bangun yang tadinya pagi, karena di rumah mugkin sedikit ngentengin, jadi malas-malasan. Kelima, ini sih bisa dibilang minus atau plus, yaitu kebosanan, knapa plus atau minus, karena nggak semua orang sama. Saya sendiri senang bisa bertemu orang dan berinteraksi untuk berbagi cerita atau pengalaman, apalagi di rumah saya sndirian kalau pagi - sore, jadi agak bosen juga ya di rumah terus-terusan. Tapi bagi orang yang semacam introvert atau lebih suka menyendiri atau dia nggak terlalu suka keluar rumah, mungkin bisa menjadi plus bagi mereka, pasti untuk rasa bosan nggak begitu besar.

Yah intinya semua itu ada plus minusnya dan tetap focus, karena jujur saya sendiri ya merasa tergoda juga kalau di rumah. Saya Pribadi sih kurang nyamannya kerja di rumah itu jaringan sharing foldernya ini yang lumayan menyita waktu. Tapi saya tetap bersyukur sih, dan lebih bersyukurnya jikalau wifi bulanan saya bisa diklaim hahaha...(just kidding) karena jaringan internet yang kita gunakan sebenarnya adalah fasilitas kantor. kecuali kalau kita seorang freelancer.
Yang lebih bersyukurnya juga kalau kita tetap dalam keadaan sehat dan bisa bekerja seperti biasa. Keep enjoyed on life and stay healthy saja, semoga wabah ini segera berakhir, aaamiin...