Rabu, 01 Mei 2019

New Chapter Begin of Life


Rasanya kayak mimpi, tapi ini nyata. Kenyataannya aku harus menjalani apa yang ada sekarang. Kehidupan masih berjalan. Masih ada yang perlu dilewati. dan ketika aku membuka mata, semuanya berbeda. Aku bukan lagi dirumah ku sendiri. Suara teriakan Ibu yang membangunkan aku dan menyuruhku membantunya menyiapkan sarapan itu sudah tidak ada lagi. Begitu dengan suara mesin mobil milik Ayah, yang tiap pagi sudah membuat berisik, juga tidak ada. Kemana semua itu
Astagaaa… aku lupa. Ayah dan Ibu sudah nggak disini. Mereka udah pergi untuk selamanya. Tersadar aku ketika tante Ira memanggilku dari balik pintu kamar untuk menyuruhku sarapan.
"Rasya…bangun sayang, ayo sarapan, tante udah bikin nasi goreng pedes kesukaan kamu.." Ujar tante.
Aku masih belum bisa menjawab, karena belum sepenuhnya tersadar. Mata ini udah melek, tapi masih nggak mampu untuk menahan rasa kantuk yang masih ada.
ketukan tante yang kesekian, sunggu menyadarkan aku untuk segera menjawab.
"iya tante… Aku udah bangun kok,, ntar aku susul ke meja makan" jawab ku dengan suara yang agak serak dan berat, maklum baru bangun.
"ya udah, buruan ya, soalnya keburu dingin nanti nasi gorengnya"
"iya tante… "

Tak lama tante sudah menjauh dari daun pintu kamar ku dan dia melakukan hal lain, entah aku nggak tahu. Yang aku dengar sedikit, langkahnya udah mulai menjauh dari kamar ku.

"Astagfirullah…ini nyata" aku bicara sendiri dan mengusap wajah ku , agar aku lebih sadar lagi.
Aku segera mengangkat badan ku sendiri dan turun dari Kasur. yang aku lakukan pertama melihat dicermin lemari. Sungguh berantakan rambut ku. Wajah ku Nampak kusam dan sedikit sedih. Lama-lama agaknya aku melamun seketika.
"Ayah ibu,,,", lalu aku tersadar dari lamun ku karena suara teriakan tante, "Syaaaa…"
"iyaaa tanteeee…" jawab ku dan bergegas ambil kuncir rambut lalu segera keluar kamar menemui tante Ira yang ternyata udah siap dimeja makan.
"maaf tanteee.. "
"lama benerrrr.. emang semalem tidur jam berapa sih kamu.. kok kayaknya sengantuk itu.."
ujar tante sambal menuangkan nasi gorengnya ke piring yang udah tersedia didepan ku.
Belum sempat aku menjawab, karena aku masih mengingat-ingat, jam berapa aku tidur.
"emm jam berapa ya.. lupa tante nggak liat jam.."
"kamu perempuan jangan suka tidur terlalu malam.. nggak bagus buat kesehatan, lagian kamu bukannya hari ini ada jadwal ngajar ya", sungguh tante mengingatkan aku akan hari ini dimana aku lupa ada jadwal ngajar dihari Sabtu.
"oooooiyaaaa….eh sekarang jam berapa?" aku teringat dan segera melihat jam dinding ruang tengah.
"oh tidaaak jam tujuh…"
"trus kamu ada kelas ngajar jam berapa?" tanya tante.
"jam Sembilan tan.. "
"nah kan, ya udah gih cepet makan trus siap-siap.."
"iya iyah.."

Yah inilah kehidupan ku, aku Melani Rasya, biasa dari kecil dipanggil Sasya atau Rasya, tapi aku lebih suka dipanggil Rasya. Meskipun begitu, dikeluarga cuma nyebutnya "Sya" aja. Aku anak terakhir dari tiga bersaudara. Kakak-kakak aku semua laki-laki. Meskipun punya saudara kandun, tapi terasa seperti nggak punya saudara. Kedua kakak ku jauh dari aku. Jauhnya juga bukan baru -baru ini, tapi udah lama, sejak aku SMP, karena keduanya kuliah di luar kota. Hingga sekarang mereka udah menikah dan tinggal beda kota dengan aku. Kakak aku pertama atau anak pertama, namanya Jaka, sekarang tinggalnya di Palu Bersama istri dan satu anaknya Untuk pulang ke Surabaya mereka jarang, karena butuh biaya lebih. Kakak kedua aku namanya, Wira, dia tinggal di Jogja, karena setelah menempuh kuliah di Semarang, dia dapat lokasi penempatan kerja di Jogja, dan sekarang dia menikah, tapi belum dikasi anak. Aku, aku hanya anak Sastra yang bercita - cita menjadi penulis naskah drama, tapi malah kerja di sanggar balet sebagai pengajar kelas pemula. Kok bisa jadi pengajar, sedikit cerita, awalnya karena dulu di SMA ada temen nawarin les balet dan waktu itu promo. Iseng aja sih ikutan, eh nggak tahunya ketagihan sampai kuliah. Levelnya juga lumayan sih, cuma nggak pernah ikut kompetisi sih hahaha.. selama cari -cari kerja, aku suka main-main ke sanggar itu, soalnya deket sama tempat perpustakaan kota. Sesekali aku ikut nimbrung ngobrol-ngobrol sama staff -nya, salah satunya yang paling akrab itu Mas Ian. Dia bener-bener friendly banget. Dulu ketika awal aku kursus, mas Ian memang belum gabung di sanggar ini. Baru aku kuliah semester akhir, dia sudah menjadi operator. Bahkan dia yang kasi info kalau ada lowongan pengajar untuk basic level alias pemula. ..

to be continued

Kamis, 04 April 2019

Tiap malam, tiap aku tiba di rumah, rasanya ingin cepat2 tidur agar bisa bertemu dengan daddy sama mami. Hanya lewat mimpi kadang aku bisa melihat mereka berdua. Rasanya aku nggak mau bangun dari tidur ku. Kenyataan ini lebih pahit daripada bermimpi.

Sedih dan kesepian selalu menjadi hantu dikala aku pulang kerja. Dad mom... icha kangeeeen banget. Aku nggak tau sampai kapan seperti ini. Melangkah kemana juga rasanya takut. Takut salah, takut terjebak, takut nggak sesuai ekspetasi. Ngelakuin apapun juga nggak semangat. Hampa banget.. hanya pasrah yang bisa aku buat. Entah sampai kapan...

Senin, 04 Maret 2019

Sekuat apapun kamu..
setegar apapun kamu jika kamu ingat dan rindu dengan kedua orang tua mu, akan lemah juga. Apalagi ketika mereka sudah tidak lagi bersama disisimu selamanya.

Sudah 3x aku memimpikan daddy dengan keadaan daddy yang diam tanpa banyak bicara dan beliau menjadi sosok yang sangat penyabar dan bijaksana. Aku kangen daddy yang suka ngomel2 ketika aku belum kunjung pulang kerja. Aku kangen bisa mencium lengannya. Tapi sekarang uda nggak bisa lagi, bahkan selamanya.
ya Allah ini smua kuasa mu.. engkau ambil beliau disaat beliau belum menjadi wali nikah ku.
Hamba nggak tau apa dibalik semua rencanamu ya Allah..
apa ini sungguh peringatan betapa aku harus sadar dan memperbaiki diri ini. Sikap egoisme ku, kekanak2anku, atau juga sikap pemarahku
Aku menyesal ya Allah.
dan aku nggak bisa menemukan kembali sosok daddy lagi.
Miss u daddy
😭😭

Rabu, 12 Desember 2018

Hikmah dari Belajar Sabar dan Ikhlas

 Melakukan kesabaran dan keikhlasan itu benar adanya akan membuahkan hasil yang nggak disangka-sangka. Tetap yakin dan percaya akan janji Allah itu nggak akan membuat kita kecewa. Knapa aku bilang begitu, karena sedikit banyak saya belajar sabar dan ikhlas dalam kehidupan saya sehari-hari. Sabar buat menghadapi segala sesuatu yang kita hadapi dan ikhlas untuk menerima segala yang kadang buat kita nggak terima atau nggak pas dalam benak kita.
Ada hal yang membuat saya banyak belajar tentang sabar dan ikhlas, yaitu kejadian dimana saya sempat kehilangan anting emas pemberian almh. Ibu. Ngerasa anting udah nggak nyantol di telinga itu hari Jumat kamern tanggal Sembilan Desember 2018, bangun pagi mendadak telinga ini enteng sebelah. Ketika meraba, anting udah nggak ada. Sontak saya kaget banget, secara yang hilang ini barangnya bernilai banget secara pemberian dan secara ada harga jualnya.
Setelah tahu anting itu nggak ada, saya langsung mencari di seluruh kamar, dan jalanan yang sebelumnya saya lewati. Saya agak berprasangka sih kalau jatohnya di Mall, karena semalam sebelum anting itu nggak ada saya sempat ke Mall. Tapi saya nggak mungkin kesana, terlalu effort buat saya. Yaa satu-satunya cuma ikhlasin, karena kalau saya ngejar sampai ke Mall segala, bakal percuma, karena pasti sudah ada yang nememukan. Mau nggak mau kudu nerima kalau barang itu hilang.
Kehilangan anting ini membuat saya saat ini merasa ngenes banget, “Ya elaah mau aja ke Jakarta, pake acara hilangny anting emas..” yaa meskipun nggak keliatan karena ketutup krudung, tapi nggak enak aja pake anting sebelah doang. Saya akhirnya sempet mikir buat beli baru lagi, jadi yang sebelah saya jual tanpa surat, karena saya juga nggak tahu dimana surat a.k.a nota pembeliannya itu disimpan. Dan waktu itu mupeng juga sih pas tanya-tanya harga emas beli di toko langganan, karena harganya setengah juta lebih per gram-nya. Nggak mungkin juga dalam hitungan detik bisa kebeli, Jangankan detik, nunggu minggu depan juga kagak bisa. Yaaa paling tidak bulan depan lah habis gajian atau nggak, ya pinjam ke tante atau kakak buat beli anting baru. Ahhh tapi buat apa sih buru-buru toh nggak terlalu urgent dan hanya prastise aja. Ya udah lah mikir ke Jakarta dulu aja kalau gitu. Saya hanya bisa berdoa, “Ya Allah kalau memang anting itu rejeki saya, maka temukanlah, karena saya nggak tahu hilangnya dimana. Kalau memang bukan rejeki saya, maka saya ikhlas, saya anggap ini sodaqoh..” dengan perasaan yang melas tapi berusaha untuk tetap sabar dan ikhlas. Dan berusaha juga untuk tidak mengungkit kembali, katanya sih gitu, kalau udah ikhlas ya udah nggak perlu dibahas, takutnya malah nggak ikhlas beneran. Sekuat mungkin saya menerima, jadi gimana-gimana saya buat enjoy aja, yang penting saya tetap sehat dan bisa cari duit lagi buat beli yang baru. 
 
Hingga tanggal duabelas Desember 2018, tepat jam sepuluh pagi, ketika saya tengah-tengah mengerjakan pekerjaan saya di kantor, tiba-tiba seorang OB di ruangan saya nyamperin dan menyodorkan sesuatu ke saya. “Mba sampeyan ya sing kehilangan iki..”, awalnya saya pun melihat seadanya, dan ketika saya melihat lagi apa yang disodorkan bapak OB, mata saya langsung terbuka lebar-lebar, seakan-akan nggak menyangka barangnya ada di depan mata. “Iyaaaaa pak ini punya sayaaaa…nih lihat anting saya satunya sama kan..” reflek saya menunjukkan anting saya satunya dan telinga saya yang tanpa anting. “ooh yawess.. soale wingi aku nemu nak kunu dino sabtu…wong2 tak takoki ga ngroso nduwe.. yowes tag simpen” jawab bapak OB sambil nunjuk kearah mejanya user saya. Dan saya inget , jangan-jangan jatuhnya ketika hari Jumat dimana saya sorenya sempat sholat Magrib di dekat meja user saya. Agak kaget aja nggak menyangka hilangnya Jumat dan baru saya ketahui hari Rabu tanggal duabelas Desember 2018. Alhamdulillah ya Allah…
Mungkin kalau orang dengar ada yang mengatakan, ahh berlebihan. Yaaa mungkin bagi mereka yang berduit dan mungkin bagi mereka yang nggak tahu sejarahnya. Betapa senangnya saya ketika anting yang saya kira hari Sabtu malam tanggal tujuh Desember 2018 hilang dan baru ketemunya hari Rabu tanggal duabelas Desember 2018, cukup ada hitungan hari juga sih.
Dari kejadian ini, saya pun mengambil pelajaran dan hikmahnya, bahwa kalau kita sabar dan ikhlas, insya Allah , Allah akan menggantinya, yakini janji Allah nggak salah. Dan teguran-teguran macam gini yang menyadari saya kalau Allah masih sayang sama saya. Masalah atau cobaan yang datang bukan berarti Allah membenci, tapi mengingatkan bahwa Allah kangen sama curhatan kita a.k.a berdoa dan beribadah kepadanya. Keep Positive Thinking with Gusti Allah…
Alhamdulillahnya saya nggak kurang- kurang nih sama Allah dan berterimakasih dengan si Bapak OB yang nemuin, Sebagai apresiasi dan ungkapan terimakasih, karena si bapaknya yang jujur, saya kasi bapaknya roti bakar dan es tea leci. Mengingat dulu pernah dengar ada OB yang kabarnya ambil laptop anak kontrak, kadang saya takut. Padahal itu jelas siapa pemiliknya. Sedangkan anting kan jelas-jelas nggak tahu pemiliknya siapa. Kalau orang nggak jujur, dia pasti udah ambil tuh anting dan pura2 nggak tahu (who knows?).
Yah begitu lah, mengambil pelajaran itu nggak harus dari hal besar, hal kecil pun yang itungannya (mungkin) sepele bisa menjadi pelajaran yang berharga dan berdampak besar.
 
 

Selasa, 13 November 2018

Apa yang Kau Cari Kalau Bukan Tabungan di Akherat

Kalau ditanya, mau jadi apa? aku hanya ingin menjadi orang baik saja, orang yang bisa membuat orang lain bahagia, karena itu hal yang nggak mudah sebenarnya. mencari sesuatu yang bermakna juga nggak gampang. apalagi mencari tabungan untuk diakherat nanti. kuncinya ada dua sabar dan ikhlas. klise, tapi itu pasti dan nggak mungkin disegala kehidupan dua kunci itu nggak dipakai, ya kan?

aku pengen semua orang mengenang karena dia telah bahagia dgn apa yang aku udah lakukan ke dia. bukan karena uang ku atau karna harta, tapi kebahagiaan aja buat orang itu bs mengenang. orang akan membicarakan orang lain ke orang lainnnya lagi. kita akan senang kalo dgr cerita yang baik2 daripada yang buruk2. naah itu penyebaran kebahagiaan. insya Allah hadiahnya pahala.
yakini Allah nggak akan mengecewakan kita. yakini Allah selalu berada disisi kita.
maka, teruslah hidup untuk mencari tabungan diakherat, karena itu lah kehidupan yang paling akhir nantinya.

Jumat, 20 April 2018

The Second Time for Surprising Belated Birthday Party

Alhamdulillah untuk kali kedua saya dapat surprise birthday.
Seperti ditahun sebelumnya, saya pernah mendapatkan surprise birthday dari teman-teman satu tim. Surprise itu juga berawal dari spv saya super baik yaitu mba Amel. Nah berhubung ditahun 2018 tepat bulan februari kemarin dia resign, jadi saya langsung ingat akan surprise bithday. Mendadak muncul pertanyaan, kira-kira bulan depan saya dapet surprise nggak ya?. Secara, penggagas surprisenya itu per 1 maret udah nggak kerja lagi. Yah wallahualam aja deh. Kalau temen2 yg lain inget hari ulang tahun saya itu syukur kalau nggak ya gpp juga jadi bisa saving budget buat yang lain.
Dan ketika hari ultah ku tiba, yeah
no one else knows when it was my birthday. Malah hari itu ada surprise untuk  new hire yang dua hari lalu ulang tahun. Dan itu aku nggak dapet invitation lho. Mendadak sore2 saya diajak buat ikutan kasi surprise alasannya karena nggak ada orang lagi, yang lain masih pada meeting di tempat lain. Huhuhu swedih ya. Tapi ya everything its oke kok. Karena bahagia itu sederhana, yaitu bisa ikut membahagiakan orang lain. *oposeh

Ketika itu hari udah semakin sore, setelah acara surprise birthdaynya si anak new hire itu, nggak lama ada dua teman saya yang sesama contractednya dari departement tax nyamperin saya dan mengucapkan selamat ulang tahun. Nggak lupa juga dengan doa2 yang mereka berikan ke saya. Oya sebelumnya pagi-pagi si Ana juga kasi surprise dengan kirim setengah lusin donat.
Naah semenjak kehadiran teman saya dan donat itu, anak baru dibagian saya ternyata sedaritadi memperhatikan saya. Terus dia bertanya dengan polosnya.
"Mba Raisa ulang tahun juga ya?"
Upss... kaget lah saya.
"Hehehe iyaa..." saya jawab sambil senyum meringis.
"Owalaa pantes tadi aku denger mbak bilang iya makasi ya doanya, amiin.. amiin..sama ada donat di meja tapi mbak kayak bingung gitu"
Yeaaahh akhirnya ada yang tahu deh.
Yawes lah yaa cuma anak baru doang yang tahu. Dan benar keesokkan harinya keadaan aman dan nggak ada apa2. Oke fine. Hingga menjelang akhir bulan. Kalau nggak salah tanggal 28 apa ya, mendadak ummi chatt saya buat minta tolong benerin e-spt dan saya diminta buat nyamperin dia. Hemm.. awalnya saya agak males karena masih banyak kerjaan. Dan saya juga ngerasa aneh, karena alasannya ummi itu g masuk akal. Kok mendadak ada pembetulan? Bukannya dia nihil ya. Tapi ya udah lah ya. Saya samperin mungkin dia butuh bantuan lainnya. Terus menddk account e-spt nya dia nggak bs dibuka. Dan saya kasi waktu dia buat nyoba buka accountnya sambil saya nyemilin biskut coklat yang ad di mejanya ummi. Ehh nggak lama saya liat mba fenny dan mas Restu berdiri berbarengan terus natap kubikelnya ummi . Daaaan
"Happy birthday to you..." saya dengar dari belakang ada suara2 nyanyian itu dan saya liat sudah ada teman2 lainnya bawa kue and especially my manager bu Trisa. Waaah sumpah kaget dan speechless saya. Jujur saya deg2an, bingung, mana saya masih ngunyah biskuit coklat yang coklatnya lumer menghiasi gigi saya. Bahkan saya sebelumnya saya tanya, siapa yang ulang tahun? Sontak mas Restu ketawa. Ya iyalah ini udah  kelewat dua minggu. Untung masih dalam bulan yang sama.
Subhannallah kaget beneran lhoo...aslii...
Dan seperti ritual2 biasanya, kue ultah dikasi, tiup lilin smbil difoto, pemberian hadiah, terus foto2 deh with all the team.
Alhamdulillah yaa kali ini juga pemberian hadiahnya sama bu Trisa.

So finally... thanks a lot my team with the surprising belated birthday party, meski telat nggak apa2 deh yang penting mereka masih a wear dengan saya.

Minggu, 15 April 2018

Lelah tapi Nggak Nyerah

Nggak tau knapa aku sebenarnya nggak pernah percaya pencarian jodoh melalui situs2 sos med pencarian jodoh, apalagi kemarin sempet zonk aja sama salah satunya.
Aku ngerasa kenalan orang baru itu kadang ribet. Iya kalo emg bisa dipercaya, kalo nggak gimana.
Tapi aku harus cari dimana lagi. Orang yang tadinya aku sayang, wes pergi. Dan tetap dengan keadaan ku yang sampai sekarang aku nggak tau letak kesalahan ku ke dia itu apa.
Ahh sudah lah aku nggak mau banyak berharap. Pasrah sama Allah. Kekasiannya Allah aja ke aku. Jodoh ku dtgnya kapan aku juga ga tau. Aku udah capek. Hanya sabar dan ikhlas aja aku ngejalani hidup ini. Aku kayaknya nggak punya semanga t hidup lagi. Mau melakukan apapun itu takut salah. Takut org g suka. Takut salah pilih. Serba takut. Jujur aku masih berada dizona nyaman dan aman. Aku harus keluar dari itu, tapi aku nggak tau mulai dari mana. What should I do?
Semua org bilang. Ayo kapan nikah, ayo mana pacarnya. Mereka tanya seperti itu kayak nikah itu kayak kita mau jalan2 ke mall yang bisa ditempuh naik angkot atau jalan kaki pun bisa sampai.
Semua karena ridho Allah. Bagaimana pun juga kalo aku paksain, kalo Allah nggak ridho. Gmn mau nikah?
Kalau bisa itu tanya apa sudah dapet jodoh? Kalo belum, mau nggak dibntu nyariin. ? Apa yang perlu saya bantu buat menyegerakan km nikah?
Ya, I think this good question ketimbng tanya, kapan km nikah?
Sekalian aja aku jawab, coba km tanya Allah, ya Allah kapan sih icha nikah?

Siapa sih yg ga mau nikah?
Siapa? Hanya org yg berkomitmen bahwa hidup bahagia nggak cuma nikah.

Pikiran saya udah kalud. Saya sendiri juga bingung harus ngapain dulu. Embuh lah fokus kerja dulu aja. Cari kerja mapan aja.

Nggak nikah sekarang juga nggak papa, asal nggak nyerah untuk mencari - quote from movie "knpa harus bule?"